Kasus Covid-19 di AS Diprediksi Meningkat Usai Unjuk Rasa Kematian George Floyd
Merdeka.com - PhD Cand. University of Michigan, Eitan Paul memprediksi kasus Covid-19 di Amerika Serikat (AS) meningkat tajam pascademonstrasi yang memprotes kematian George Floyd. George Floyd merupakan warga Afro-Amerika yang meninggal usai ditangkap petugas di Minneapolis, Negara Bagian Minnesota.
Data per 5 Juni 2020 kemarin, konfirmasi kasus positif Covid-19 di AS mencapai 1.872.660. 108.211 orang dinyatakan meninggal dunia, 485.002 sembuh.
"Ada kemungkinan angka kasus akan meningkat," kata Eitan dalam diskusi Trump dan Perkara Rasial yang Timbul-Tenggelam, Sabtu (6/6).
Eitan menyebut, selama unjuk rasa berlangsung, sangat sulit bagi para demonstran AS menjaga jarak fisik untuk menghindari penularan virus corona. Meskipun mereka sudah menggunakan masker.
Meski demikian, dia menilai unjuk rasa karena alasan menuntut keadilan atas kematian George Floyd tak kalah penting dari mencegah penyebaran Covid-19.
"Ada banyak protes, ya resikonya keluar tanpa sosial distance tapi itu penting karena isu rasis sangat penting," ujarnya.
Aksi demontrasi menuntut keadilan atas kematian George Floyd berujung kerusuhan. Laman BBC melaporkan, Sabtu (30/5), kerusuhan terjadi di New York, Atlanta, Portland, dan beberapa kota lain. Sementara Gedung Putih dijaga ketat aparat.
Dalam video yang beredar di media sosial, polisi berkulit putih bernama Derek Chauvin menginjak leher Floyd, 46 tahun, Senin lalu. Karena itu, George Floyd meninggal karena kehabisan napas.
Derek Chauvin yang menangkap Floyd sudah didakwa membunuh. Dia dan ketiga polisi rekannya sudah dipecat.
(mdk/ded)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya