Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Kampanye Donald Trump semakin sering diganggu demonstran

Kampanye Donald Trump semakin sering diganggu demonstran Keributan di kampanye Donald Trump. ©2016 Merdeka.com/AFP/Brendan Smialowski

Merdeka.com - Kampanye bakal calon presiden Amerika Serikat, Donald Trump, beberapa hari terakhir semakin ramai pengunjuk rasa. Kelompok pegiat hak asasi, ditambah warga berdarah Latin serta dari kelompok kulit hitam konsisten berunjuk rasa di manapun politikus tajir itu berkampanye.

Setelah dua hari lalu kampanye Trump di Kota Chicago dibatalkan karena bentrokan antara pendukung dan pengunjuk rasa meluas, tadi malam proses kampanye di Kota Cleveland juga diwarnai kericuhan.

Kantor berita AFP melaporkan, Minggu (13/3), para demonstran merangsek masuk stadion Cleveland. Sang kandidat Partai Republik itu baru memulai pidato menyambut para pendukungnya.

"Buang Trump, buang Trump ke tempat sampah," teriak para pengunjuk rasa sembari membawa papan poster berisi kecaman terhadap Trump.

Seperti biasanya, Trump meminta satpam dan polisi mengusir para demonstran. Kampanye Trump seringkali disusupi pengunjuk rasa, namun intensitas kecaman terhadap pengusaha properti dan kasino ini meningkat seiring popularitasnya yang menanjak.

Trump menuding orang yang mengacau di kampanye Cleveland adalah pendukung Senator Bernie Sanders, bakal capres Partai Demokrat yang sedang bersaing dengan Hillary Clinton.

"Mereka ini orang-orangnya Bernie," kata sang bakal capres dari podium, sambil memperhatikan satpam mengusir pada pengunjuk rasa yang nyaris terlibat baku pukul dengan pendukung Trump.

"Usir orang-orang itu sekarang juga," imbuh Trump.

Dalam tiga hari terakhir saja, bentrokan antar pengunjuk rasa dan pendukung Trump selalu terjadi, baik dalam kampanye di Chicago, Dayton, hingga Cleveland. Trump dibenci oleh beberapa kalangan lantaran sikap politiknya yang sangat kontroversial.

Trump mengusulkan larangan masuk AS bagi umat muslim, mendeportasi pekerja asal Meksiko, serta mengambil sikap bermusuhan dengan China. Kelompok minoritas Negeri Paman Sam khawatir Trump benar-benar maju menjadi capres Partai Republik. Dalam pemilihan internal partai, Trump unggul jauh dibanding pesaing seperti Senator Ted Cruz atau Marco Rubio.

Joy Childress (24) adalah mahasiswa berdarah Afrika-Amerika yang ikut serta dalam unjuk rasa menolak Trump, dengan cara menyusup di kampanye Cleveland. Dia mengaku tergerak menolak Trump karena khawatir melihat pandangan politik sang bakal capres.

"Jika diperhatikan, para pendukung Trump adalah orang-orang berwawasan sempit. Mereka arogan dan mendukung pandangan yang menebar kebencian," kata Childress. (mdk/ard)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP