Kalla: Tidak ada pembersihan etnis Rohingya
Merdeka.com - Sesudah mengunjungi Myanmar Jumat pekan lalu, Ketua Palang Merah Indonesia Jusuf Kalla menyatakan indikasi penghapusan etnis Rohingya tidak terbukti di lapangan. Dia menilai berita media terlalu berlebihan.
Kalla mengaku telah membaca empat laporan berbeda soal kronologi konflik antara minoritas muslim dengan mayoritas Buddha pada 8-9 Juni lalu. Dia juga sudah mengunjungi lokasi kekerasan di Sithway, ibu kota Provinsi Arakan. "Ada pelanggaran hak asasi iya. Polisi tidak melindungi muslim, benar. Tapi kalau ada yang bilang warga Rohingya tewas mencapai 10 ribu, itu berlebihan, yang jelas 75 persen korban memang dari Rohingya" kata Kalla dalam jumpa pers di kantornya, Selasa (14/8).
Mantan wakil presiden ini menjamin pemerintah Myanmar bersedia membuka diri sebab mereka butuh stabilitas dan citra bagus di mata dunia internasional. Presiden Thein Sein di Kota Yangon, Jumat pekan lalu, berjanji akan menandatangani nota kesepahaman antara PMI dan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) untuk menyalurkan bantuan bagi pengungsi di Provinsi Arakan setelah Lebaran.
Menurut Kalla, konflik antara minoritas muslim dan mayoritas Buddha ini sama seperti konflik Ambon, awal 2000. "Kekerasan bercorak agama ini selalu berawal dari orang per orang, lalu kelompok, berujung komunitas," kata dia. Dari pihak warga Buddha pun jatuh korban tewas meski hanya seperlima dari keseluruhan.
Karena dimensi pertikaian antar etnis ini telah melibatkan agama, Kalla meminta setiap lembaga berniat membantu Rohingya melalui jalur resmi dengan payung hukum agar tidak menciptakan konflik baru.
Hingga berita ini dilansir, 14 ribu warga Rohingya masih berada di kamp pengungsian di perbatasan dengan Bangladesh. Dari pengamatan PMI, korban kekerasan di Myanmar sangat membutuhkan rumah dan makanan. (mdk/fas)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya