Jurnalis Meksiko dibunuh lagi oleh kartel narkoba
Merdeka.com - Kekerasan terhadap jurnalis kembali terjadi di Meksiko. Seorang reporter senior di Negara Bagian Sinaloa, Javier Valdez Cardenaz, dibunuh oleh orang tidak dikenal ketika sedang berkendara.
Dilansir dari Reuters, Selasa (16/5), Valdez sedang mengemudi mobil di kota Culiacan. Kemudian dia dicegat oleh seseorang, yang kemudian membuka paksa pintu mobilnya dan menyeretnya keluar. Dia langsung ditembak hingga tewas.
Dengan kejadian ini, sudah lima jurnalis di Meksiko tewas dibunuh sejak Maret tahun ini. Hal membikin negara itu menjadi tempat paling mematikan buat wartawan. Bahkan, tingkat pembunuhan berada pada puncak paling tinggi sejak perang antarkartel narkoba meletup pada 2011.
Masih di Meksiko, tepatnya di Autlan, negara bagian tetangga, Jalisco, juga terjadi hal sama. Sonia Cordova, seorang petinggi majalah mingguan setempat, Semanario Costeno, ditembak oleh orang diduga suruhan kelompok kartel 'Generasi Baru Jalisco'. Namun, dia beruntung nyawanya berhasil diselamatkan. Sayang, anak sulungnya, Jonathan Rodriguez Cordova, tewas dalam kejadian itu. Mendiang diketahui bekerja menjadi reporter di majalah itu dan kerap meliput isu kriminal.
Reputasi Valdez di dunia jurnalistik sudah kesohor. Namanya harum karena karya reportasenya tentang perang narkoba, organisasi kejahatan, dan perdagangan orang diganjar penghargaan Kebebasan Pers Internasional pada 2011.
Salah satu sahabat Valdez, Jan-Albert Hootson, menyatakan memang seperti itu kenyataan mesti dihadapi banyak jurnalis di Meksiko. Mereka tidak pernah tahu apakah saat meliput esok hari masih bisa kembali dengan selamat.
"Dengan alasan yang sama, dia dan rekan sejawatnya selalu berada di bawah ancaman kekerasan," kata Hootson, seperti dilansir dari FOX News.
Dia meluncurkan buku pada tahun lalu berisikan tulisan tentang bagaimana bahayanya kehidupan para jurnalis yang melaporkan secara jujur tentang kebusukan kejahatan dan korupsi mencengkeram Meksiko.
"Perdagangan narkoba adalah jalan hidup. Kamu harus menyadari itu saat mengemban tugas menjadi jurnalis. Saya enggan ditanya soal apa yang mau kamu perbuat di hadapan sebegitu banyak kematian. Kenapa tidak menyatakan apa yang sedang terjadi," kata mendiang Valdez dalam sebuah wawancara televisi Oktober tahun lalu.
Sayang, hukuman buat pelaku kekerasan terhadap jurnalis di sana tidak pernah terwujud. Bahkan ada kabar, sejumlah wartawan dirampok saat meliput konflik di negara Bagian Guerrero, oleh bocah-bocah yang membawa senapan otomatis.
Komite Perlindungan Jurnalis di Meksiko sudah berulang kali meminta negara melihat kenyataan itu. Namun, negara kembali cuma sebatas mengutuk kekerasan itu. (mdk/ary)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya