Juli 2016 jadi momen ISIS paling aktif menebar teror di Eropa
Merdeka.com - Berturut-turut terjadi insiden terorisme di Prancis dan Jerman, rentang waktunya hanya dua pekan. Kejadian terbaru adalah penyanderaan gereja di Kota Saint-Etienne-du-Rouvray, Provinsi Normandy, utara Prancis pada Selasa (26/7) pagi waktu setempat. Dua pelaku menggorok pendeta berumur 84 tahun hingga tewas, melukai satu jemaat, sebelum kemudian ditembak mati oleh polisi antiteror.
Beberapa jam kemudian, situs berita Aamaq yang berafiliasi dengan Negara Islam Irak dan Syam (ISIS) mengaku bertanggung jawab atas serangan gereja di Normandy. Dalam pernyataannya, Aamaq mengatakan serangan di Normandy itu dilakukan oleh dua tentara ISIS dan sebagai balasan atas serangan pasukan koalisi Barat yang menggempur markas mereka di Suriah. Prancis mengerahkan jet tempur dalam koalisi tersebut.
Penyanderaan ini hanya berselang dua pekan dari insiden terorisme di Kota Nice, saat pria mengendarai truk menabrak kerumunan warga. Insiden di Nice itu menewaskan 84 orang, juga didalangi oleh ISIS. Korban tewas mencapai 84 orang, serta lebih dari 300 lainnya luka-luka.
Pengendara truk itu bernamaMohamed Lahouaiej Bouhlel (31), adalah warga Prancis keturunan Aljazair. ISIS mengklaim Bouhlel memperoleh tugas dari markas Kota Raqqa, Suriah, untuk membalas serangan koalisi militer Barat.

Teror beruntun ini menggenapi ancaman Daulah Islamiyah sebelumnya, yang bersumpah akan melakukan teror beruntun di seantero Eropa. Ancaman itu dilontarkan oleh militan seusai peledakan bom di Bandara Brussels, Belgia, tiga bulan lalu. Saat itu media propaganda militan mengatakan Belgia diserang karena ikut campur menahan para prajurit khilafah yang bersiap menyerbu Prancis.
Dua hari sebelum penyanderaan gereja Normandy, Jerman lebih dulu dilanda rentetan teror militan yang diduga kuat berafiliasi dengan ISIS.
Pada 18 Juli, remaja laki-laki asal Afghanistan menyerang belasan penumpang kereta lokal di Bavaria dengan kapak dan pisau. Dia ditembak mati oleh polisi setelah mencoba kabur dari stasiun. ISIS mengklaim remaja ini adalah anggota mereka.
Selanjutnya, pada 24 juli seorang imigran Suriah meledakkan diri di Kota Ansbach, Negara Bagian Bavaria. Selain menewaskan pelaku, insiden ini melukai 12 pejalan kaki. Pelaku awalnya hendak menerobos masuk arena konser musik di kota tersebut, namun entah kenapa rencana tersebut urung dilakukan.

Menteri Dalam Negeri Bavaria, Joachim Herrmann, membenarkan bahwa tersangka pelaku bom bunuh diri punya kedekatan dengan ISIS. Sebuah video dibuat oleh pelaku, ditemukan di ponselnya. Di situ disebutkan dia merencanakan penyerangan ini sejak beberapa waktu lalu.
"Setelah itu, dia meneriakkan 'Allahu Akbar' dan berjanji setia kepada Abu Bakar al-Baghdadi, yang terkenal sebagai pemimpin ISIS, dan berjanji akan melakukan aksi penyerangan melawan Jerman karena mereka berdiri di jalan Islam," kata Herrmann.
Artinya sepanjang Juli 2016 ada empat serangan teror beruntun didalangi ISIS terjadi di dua negara besar Benua Biru, paling parah melanda Nice. Situasi seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya. Lebih-lebih semua peristiwa teror di Jerman terjadi di kawasan Bavaria, yang menampung cukup banyak pengungsi Timur Tengah tahun lalu.
Kanselir Jerman, Angela Merkel mengakui kebijakannya membuka pintu bagi para imigran serta pengungsi Suriah tahun lalu telah (mdk/ard)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya