Jilat ludah sendiri, ini 4 langkah RI minta bantuan atasi asap
Merdeka.com - Sempat diberitakan menolak bantuan luar negeri terkait penanganan kabut asap, kini Indonesia seakan menjilat ludahnya sendiri dengan meminta bantuan negara tetangga untuk menyelesaikan bencana yang sudah merambah hingga ke Singapura, Malaysia, Filipina, dan Thailand.
Singapura yang terkena dampak cukup parah tidak segan untuk menawarkan sejumlah paket bantuan seperti pesawat C-130 untuk penyemaian awan, dua pesawat C-130 untuk mengangkut tim bantuan pemadam kebakaran dari Angkatan Pertahanan Sipil Singapura (SCDF), serta penggunaan helikopter Chinook buat pemadaman dari udara, sekaligus citra satelit beresolusi tinggi dengan koordinat titik api.
Lebih jauh, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi juga dikabarkan telah mengajak lima negara, yakni Malaysia, Singapura, Australia, China, dan Rusia untuk bekerja sama menghentikan asap. Hal itu dilakukan Menlu Retno ketika bertemu dengan menlu lima negara tersebut di Rapat Sidang Umum PBB di New York beberapa waktu lalu.
Berikut 4 langkah Indonesia minta bantuan atasi asap yang dirangkum merdeka.com dari berbagai sumber.
Pemerintah pertimbangkan terima bantuan asing atasi kabut asap
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comKabut asap akibat kebakaran lahan dan hutan di Sumatera dan Kalimantan belum juga dapat diatasi oleh pemerintah. Bantuan yang ditawarkan Singapura, Malaysia dan negara lainnya mulai jadi bahan pertimbangan pemerintah.
"Kalau lihat perkembangannya, eskalasinya, dan berbagai tingkat kesulitan lapangan, memang tekanan airnya (untuk memadamkan api) juga harus kuat, kita mesti pakai kapasitas air dan tekanan volume, kelihatannya memang ada keperluan untuk menerima dukungan, apakah dari Singapura, Rusia, Austria, dan lain-lain," kata Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya di Istana, Jakarta, Rabu (7/10).Politikus NasDem itu mengakui jika pihaknya merasa kesulitan untuk menjinakkan kabut asap akibat kebakaran. Sehingga, tak ada salahnya jika tawaran bantuan dari negara luar menjadi bahan pertimbangan untuk diterimanya."Kalau yang disebut-sebut (menawarkan bantuan) sih Singapura, Rusia, kemungkinan Malaysia, Australia, kemungkinan juga China atau Jepang dan lain-lain. Jadi masih dibuka," jelasnya.Siti mengatakan, bantuan yang diperlukan saat ini lebih kepada pesawat yang bisa melakukan water bombing dengan volume air yang lebih besar. Selain itu juga dibutuhkan pesawat pengangkut pasukan dalam jumlah lebih besar."Kalau benchmarking utamanya di Asean itu kan water bombing dan hujan buatan sebetulnya. Oleh karena itu pesawat water bombing dan angkut pasukan itu jadi penting. Yang penting signifikan saja hasilnya," tutup Siti.
Selain Singapura, Menlu hubungi 4 negara minta bantuan atasi asap
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comPemerintah Indonesia mengajak lima negara, seperti Malaysia, Singapura, Australia, China, dan Rusia untuk bekerja sama menghentikan asap. Hal ini dilakukan Menteri Luar Negeri Indonesia ketika bertemu dengan menlu lima negara tersebut di Rapat Sidang Umum PBB di New York beberapa waktu lalu.Langkah tersebut diambil lantaran beberapa negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura sudah menawarkan bantuan untuk memadamkan api."Menlu sempat bicara dengan menteri luar negeri Singapura, Malaysia, dan Australia untuk membahas kerja sama bagaimana mereka bisa membantu titik api agar tidak berkembang," ucap juru bicara Kementerian Luar Negeri Indonesia Arrmanatha Nasir, Kamis (8/10).Bentuk kerja sama masih dalam pembahasan. Sejauh ini, ucap pria yang akrab disapa Tata, bentuk kerja sama yang dibicarakan berupa bantuan pemadaman dan penyewaan alat-alat untuk memadamkan api.Menurut Tata, Indonesia sendiri sudah cukup banyak melakukan upaya untuk memadamkan api. Tak hanya dari langkah pemadaman, namun juga penegakan hukum terhadap 200 individu dan perusahaan yang terlibat pembakaran hutan ini."Kita sudah menyiapkan 26 helikopter, 4 water modification, dan 4 water tractor. Selain itu sekitar 65 juta liter air telah disiram ke lima provinsi yang ada titik api," paparnya.Tata mengatakan tantangan saat ini adalah memadamkan titik api baru yang bermunculan setiap hari di Sumatera dan Kalimantan.
Indonesia luluh, akhirnya terima bantuan Singapura padamkan api
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comMenteri Luar Negeri Singapura, Vivian Balakrishnan, mengklaim Indonesia akhirnya bersedia menerima bantuan yang mereka sampaikan sejak 11 September lalu untuk memadamkan api bersama-sama. Tawaran kiriman pesawat dan tim militer untuk menjinakkan kebakaran hutan di Sumatera ini sempat ditolak mentah-mentah oleh pemerintah.Balakrishnan mengatakan kesepakatan itu didapat setelah dia menemui Menteri Luar Negeri Retno L.P Marsudi pada Rabu (7/10). "Menlu Retno menyatakan kali ini Indonesia menerima bantuan yang ditawarkan. Sangat baik karena pada akhirnya kedua negara bekerja sama menyelesaikan persoalan bencana asap secepat mungkin," tulis Menlu Singapura lewat akun Facebook resminya, seperti dilansir Channel News Asia.Sinyal pemerintah luluh sudah disampaikan kemarin oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya. Dari hasil analisis perkembangan kebakaran, eskalasinya, dan berbagai tingkat kesulitan lapangan, tidak bisa lagi Indonesia memadamkan sendirian."Kelihatannya memang ada keperluan untuk menerima dukungan, apakah dari Singapura, Rusia, Austria, dan lain-lain," kata Siti.Dalam surat penawaran bantuan yang ditembuskan pada KBRI Singapura tempo hari, Negeri Singa siap mengirim satu pesawat C-130 untuk membuat hujan buatan, tim dari Angkatan Darat Singapura menyisir titik api di lapangan, satu helikopter Chinook buat mengirim bom air, serta teknologi satelit untuk mendeteksi sumber asap.Pemerintah Indonesia sempat maju mundur ditawari bantuan dua negeri jiran. Malaysia juga sebelumnya ingin terlibat pemadaman api karena turut menjadi korban asap.Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho mengatakan pihaknya sempat menolak bantuan Singapura dan Malaysia, karena tidak sesuai kebutuhan." Banyak yang menurut kita dibutuhkan tidak dipakai oleh mereka. Jadi kita sama, (jika) Singapura ingin membantu, butuh yang sesuai," ujarnya.Dalam jumpa pers kemarin di Jakarta, Sutopo mengatakan yang dibutuhkan BNPB untuk memadamkan api adalah sokongan pesawat Beriev Be-2000. Sedangkan kalaupun Singapura bisa mengirim Chinook, jangan cuma satu unit. Soalnya target Indonesia adalah bom air bisa langsung menyasar 1,6 hektar lahan terbakar."Kecuali dibantu 20 chinook (oleh Singapura), mau kita," kata Sutopo.Akhir September lalu, Wakil Presiden Jusuf Kalla malah menuding Singapura terlalu banyak wacana soal membantu pemadaman api di hutan-hutan Sumatera. Dia menantang negara kota itu bergerak aktif bila memang ingin ikut menyelesaikan isu bencana asap."Silakan saja kami terbuka. Singapura bisa ikut lihat sendiri. Singapura, silakan kalau mau membantu. Jangan hanya bicara," kata Kalla saat melawat ke Amerika Serikat.
Melawat ke Malaysia, Menlu Retno sekalian minta tolong soal asap
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comNegeri Retno L. P. Marsudi direncanakan akan melakukan lawatan ke Malaysia. Di sana, Menlu Retno akan bertemu dengan Menlu Malaysia dan akan membahas mengenai asap.Juru bicara Kementerian Luar Negeri Arrmanatha Nasir menjelaskan, selain untuk membahas asap, Menlu Retno juga nantinya akan membahas mengenai masalah visa untuk warga negara Indonesia yang tinggal di sana, serta buruh migran. Menlu juga nantinya akan membahas masalah perbatasan, salah satu isu hangat yang kerap mengintai dua negara tetangga ini."Ibu (Menlu) akan melakukan lawatan ke Malaysia untuk membicarakan asap, visa, Rohingya, perbatasan, ekonomi, dan buruh migran," ujar pria yang disapa Tata itu.Mengenai masalah asap, Indonesia sudah menerima surat dari pemerintah Malaysia dan Singapura. Untuk itu, kata Tata, Menlu Retno berinisiatif untuk melakukan lawatan ke Negeri Jiran tersebut.Masalah perbatasan juga merupakan isu prioritas kedua negara, ujar Tata, lantaran hingga saat ini masih ada wilayah Indonesia dan Malaysia yang batas wilayahnya bentrok. Dalam bidang ekonomi juga akan dibahas mengenai target perdagangan."Target perdagangan yang ditentukan tahun ini sebesar US$ 30 miliar, sedangkan dari Januari hingga Juli baru mencapai setengahnya. Itu yang akan kita tingkatkan lagi nantinya," tutur Tata.Menlu Retno bakal melakukan lawatan ke Malaysia mulai besok, Jumat dan Sabtu, 9-10 Oktober 2015.
(mdk/pan)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya