Jalan Panjang Para Imigran
Merdeka.com - Perjalanan panjang mereka lalui. Di bawah teriknya siang dan gelapnya malam hari. Kaki dipaksa melangkah berhari-hari. Menuju benua biru Eropa, mencari tempat perlindungan diri.
©2021 REUTERS
Gelombang pengungsi dari Suriah dan Irak tak terbendung. Selama periode 2014-2017. Ketika konflik pecah. Mulai dari rezim Bashar al-Assad hingga ekstremis ISIS.
©2021 REUTERS
Mereka memilih melarikan diri. Menjauh dari konflik yang berkecamuk. Ratusan imigran berjalan kaki, menuju tanah yang lebih menjanjikan.
©2021 AFP
Laut Mediterania harus diseberangi. Pemisah Timur Tengah dan Benua Eropa. Berlayar berbekal perahu kayu dan karet. Mengarungi laut seluas 2,5 juta kilometer persegi.
©2021 REUTERS
Para imigran berlayar tanpa arah. Menembus gelapnya malam, ditemani udara dingin menusuk tulang. Terombang-ambing di tengah lautan. Selama berbulan-bulan. Doa tak henti diucapkan. Di antara segumpal harapan dan kekhawatiran.
©2021 REUTERS
Tak semua selamat sampai tujuan. Ada di antara mereka yang kehilangan nyawa karena tenggelam. Lantaran perahu yang ditumpangi kelebihan muatan.
©2021 REUTERS
Jika beruntung, penyelamat datang. Seperti di lepas pantai Malta, Laut Mediterania. Isak tangis kegembiraan mengiringi proses penyelamatan. Setelah berhari-hari kelaparan dan tersesat di lautan. Nyawa akhirnya terselamatkan.
©2021 REUTERS
Sesampai di negara tujuan, kehidupan belum tentu menjanjikan. Kenyataan pahit, para imigran terpaksa bertahan hidup seadanya.
©2021 AFP
Mendirikan tenda di bawah kolong jembatan. Sebagai tempat berlindung. (mdk/noe)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya