Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Israel palak pencari suaka asal Afrika, berdalih lindungi demokrasi

Israel palak pencari suaka asal Afrika, berdalih lindungi demokrasi Teklit Michael pencari suaka. ©REUTERS/Amir Choen

Merdeka.com - Pemerintah Israel ternyata kejam dalam memperlakukan para pencari suaka. Mereka tega menetapkan pajak penghasilan sebesar 20 persen dari upah para pencari suaka bekerja di negeri zionis.

Dilansir dari laman Independent, Jumat (7/7), pemerintah Israel menyatakan potongan itu tidak diselewengkan, tetapi dimasukkan ke dalam dana perwalian. Jika para pencari suaka itu hengkang dari Israel, maka seluruh duit dipotong bakal dikembalikan. Banyak pihak menganggap kebijakan itu bentuk diskriminasi ras dilakukan Israel.

Aturan itu diterapkan sejak Mei lalu, dan cuma kepada para pencari suaka dari Eritrea dan Sudan. Orang-orang dari kedua negara itu kebanyakan datang ke Israel secara ilegal dan cuma mengantongi visa terbatas.

Banyak pencari suaka yang negaranya dilanda peperangan berkepanjangan atau mengalami persekusi merasa aturan itu sangat diskriminatif. Padahal buat sampai ke Israel, mereka menyabung nyawa dan menempuh perjalanan panjang melalui Gurun Sinai di Mesir yang rawan kejahatan. Beberapa malah apes karena disandera oleh kelompok bersenjata di gurun. Namun, pemerintah Israel berdalih aturan itu diterapkan demi kebaikan para pencari suaka.

"Mereka ingin kami meninggalkan Israel. Mereka ingin melemahkan semangat kami," kata seorang pencari suaka asal Eritrea, Teklit Michael (29).

Perdana Menteri Israel, Benyamin Netanyahu, beralasan kebijakan itu diterapkan buat melindungi kaum Yahudi dan karakter demokrasi Israel.

Peneliti di lembaga Institut Demokrasi Israel, Ruvi Ziegler, mengatakan cara itu dipakai pemerintahnya buat memberi tahu para pencari suaka secara tidak langsung kalau mereka tidak diterima. Bahkan, perusahaan atau individu mempekerjakan pencari suaka dari kedua negara itu juga dikenakan pajak sebesar 16 persen.

Akibat kebijakan itu, kata Ruvi, banyak pekerja migran yang diberhentikan dan angkat kaki dari Israel. Beberapa perusahaan punya taktik buat menghindari pajak dengan tidak memasukkan pembayaran para pencari suaka ke dalam pembukuan.

Otoritas Israel mengatakan butuh waktu buat mendata berapa pendatang yang pergi gara-gara aturan pajak memberatkan itu. Konon ada sekitar 45 ribu imigran dari Afrika mencari suaka di Israel. Namun, hanya sedikit dari mereka diakui sebagai pengungsi. Menurut data kelompok Hotline for Refugees dan Migrants di Israel, sejak 2009 hingga 2013, hanya sekitar 0,15 persen imigran diberi suaka. Sisanya mengalami diskriminasi hingga dianiaya.

Dua tahun lalu, pemerintah Israel menawarkan para pencari suaka asal Afrika duit sebesar USD 3500, atau setara Rp 46 juta, supaya mereka mau pergi dari Israel.

(mdk/ary)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP