Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Ini sikap Iran jika AS langgar perjanjian kesepakatan nuklir

Ini sikap Iran jika AS langgar perjanjian kesepakatan nuklir Presiden Hassan Rouhani mendengarkan penjelasan tentang nuklir. Iranian Presidency Office via AP

Merdeka.com - Iran bersiap melanjutkan pengayaan nuklir jika Amerika Serikat meninggalkan kesepakatan Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA) nuklir Iran, yang dibuat pada 2015. Ini sebagai respons atas keluarnya Amerika Serikat dalam kesepakatan tersebut.

Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif mengatakan kepada wartawan di New York, bahwa Iran tidak sedang membuat bom nuklir, tetapi jika Amerika Serikat melanggar kesepakatan tersebut, Teheran akan memulai kembali memproduksi uranium yang merupakan bahan pembuat nuklir.

"Amerika seharusnya tidak perlu takut jika Iran memproduksi bom nuklir, tetapi mungkin kami akan melakukan pengayaan kembali nuklir kami," kata Zarif, seperti dikutip dari Time of Israel, Minggu (22/4).

Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah menetapkan tenggat waktu hingga 12 Mei bagi Eropa untuk 'memperbaiki' perjanjian atas program nuklir Iran sebagai ganti bantuan dari sanksi keuangan.

Dalam wawancara CBS Zarif kembali mengeluarkan ancaman nuklir Iran, seperti yang disampaikan Presiden Iran Hassan Rouhani bulan ini. Bersumpah bahwa Washington akan 'menyesal' telah menarik kesepakatan nuklir tersebut, dan Iran akan merespons dalam waktu seminggu jika itu terjadi.

"Jika keputusan itu berasal dari Presiden Trump untuk secara resmi menarik diri dari kesepakatan itu. Maka Iran akan mengambil keputusan baik di luar maupun di dalam kesepakatan JCPOA," kata Zarif.

"Kami telah menempatkan sejumlah opsi untuk diri kami sendiri dan opsi-opsi tersebut sudah siap, termasuk opsi melanjutkan aktivitas nuklir kami lebih cepat," kata dia.

"Dan itu semua berada dalam kesepakatan itu. Opsi-opsi itu siap dilakukan dan kami akan membuat keputusan yang diperlukan ketika kami mau," kata Zarif yang berada di Amerika Serikat untuk menghadiri pertemuan PBB.

Nasib kesepakatan Iran menjadi masalah utama selama kunjungan kenegaraan Presiden Prancis Emmanuel Macron ke Washington, diikuti pembicaraan dengan Kanselir Jerman Angela Merkel di Washington.

Zarif mengatakan para pemimpin Eropa harus menekan Trump untuk tetap berpegang pada kesepakatan. Jika Amerika Serikat berniat mempertahankan kredibilitas di komunitas internasional.

Para pemimpin Eropa berharap dapat membujuk Trump untuk menyelamatkan kesepakatan itu. Karena berimbas pada perjanjian uji coba rudal dan memoderasi pengaruh regionalnya di Yaman, Suriah dan Libanon.

"Ini adalah dialog tuli," keluh seorang utusan Eropa. Bahkan seorang diplomat Amerika Serikat mengakui membujuk Trump adalah sesuatu yang sulit.

(mdk/frh)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP