Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Ini misi tempur paling tragis sepanjang sejarah pasukan elite AS

Ini misi tempur paling tragis sepanjang sejarah pasukan elite AS Operation Red Wings. ©2018 Merdeka.com

Merdeka.com - Duta Besar Amerika Serikat Joseph Donovan, menemui Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko di Gedung Bina Graha, Jakarta, Senin (19/2). Keduanya membahas soal stabilitas kawasan regional, perdagangan dan investasi, serta perkembangan kerja sama aktual antara kedua negara hingga latihan militer bersama.

Donovan menginformasikan kebijakan terbaru AS tentang pembukaan kembali pelatihan militer antara Kopassus dengan AS.

"Mungkin akan bisa dimulai dengan Detasemen 81 Kopassus," tambah Donovan.

Detasemen 81 Kopassus adalah detasemen pasukan elite TNI-Angkatan Darat yang memiliki keahlian dalam penanggulangan teror. Pasukan ini disejajarkan dengan pasukan elite AS semacam Delta Force dan Navy Seals.

Sebagai pasukan elite, diharapkan kedua pihak bisa saling bertukar pengalaman dan kemampuan. Berlaga di berbagai palagan, pasukan elite AS kenyang dengan pengalaman tempur. Baik pahit atau manis.

Operation Red Wings contohnya. 27 Juni 2005, empat prajurit Navy Seal mendapat tugas pengintaian di pegunungan Sawtalo Sar, Afghanistan. Target mereka seorang pemimpin Taliban Ahmad Shah, pemimpin perlawanan di Provinsi Kunar.

Tak ada yang menyangka jika misi itu akan menjadi salah satu kegagalan paling tragis dalam sejarah pasukan elite tersebut.

Letnan Michael P Murphy menjadi komandan pengintaian. Dia didampingi Prajurit Dua Danny Dietz, Prajurit Dua Matthew G Axelson, dan Prajurit Korps Kesehatan Marcus Luttrell.

Awal bencana itu terjadi saat tak sengaja tiga orang penggembala kambing yang melintasi gunung memergoki mereka keesokan harinya. Perdebatan terjadi dalam tim. Apa yang harus mereka lakukan? Membebaskan gembala itu dengan risiko dia akan memberi tahu Taliban, atau membunuh mereka agar posisi Navy Seals tak ketahuan. Secara hukum, personel militer AS dilarang membunuh warga sipil tak bersenjata.

Sempat juga muncul opsi mengikat saja para gembala itu. Namun mengingat kondisi gunung yang sepi, itu sama artinya membiarkan mereka mati perlahan.

Letnan Murphy mengambil keputusan berat. Dia membiarkan tiga penggembala itu pergi. Sebuah keputusan yang harus dibayar dengan harga sangat mahal.

Benar saja, para gembala itu memberikan posisi prajurit AS kepada Taliban. Dalam waktu singkat puluhan militan menyerbu naik ke gunung Sawtalo Sar. Mereka menenteng Ak-47 dan pelontar granat.

Baku tembak sengit terjadi. Tembakan jitu para personel Navy Seals menewaskan belasan musuhnya. Namun kalah jumlah, mereka semakin terdesak.

Setelah tiga jam, Letnan Murphy memerintahkan timnya untuk mundur. Mereka menjatuhkan diri dari turunan yang curam. Namun para pengejar tak menyerah.

Marcus Luttrell menggambarkan peristiwa itu dengan dramatis. "Murphy tertembak di perut. Dietz tertembak di tangan. Namun mereka masih terus menembakkan senjata untuk bertahan. Dietz kemudian tertembak di leher. Dia masih berusaha menembak walau dalah terus mengalir dari lukanya," kata Luttrell.

Luttrel mencoba menyelamatkan rekannya. Namun Dietz tak tertolong. Prajurit Seals itu gugur dalam pelukan Luttrel.

operation red wings

Sementara itu Letnan Murphy mengorbankan dirinya. Dia keluar ke tempat terbuka untuk memanggil bantuan lewat radio.

"Anak buah saya sekarat di sini. Tolong kirim bantuan," kata Letnan Murphy.

Saat itu dia diberondong tembakan Taliban. Murphy masih bisa berteriak meminta tolong sebelum peluru kembali menembus tubuhnya. Perwira Seals itu tewas mengorbankan dirinya untuk menolong timnya.

Panggilan Murphy direspons Komandan Navy Seals Letnan Kolonel Erik S Kristensen. Dia memimpin 8 anak buahnya menuju lokasi pertempuran. Terburu-buru ingin menolong Murphy dan kawan-kawannya, helikopter melaju tanpa menunggu pengawalan helikopter serang Apache seperti kebiasaan yang berlaku.

Para personel Navy Seals tak sadar mereka masuk jebakan. Pejuang Taliban membidik helikopter Chinook yang mereka tumpangi. Tembakan RPG itu tepat mengenai helikopter sesaat sebelum para prajurit AS akan turun dengan tali. Seluruh personel, termasuk Letkol Kristensen tewas seketika.

Ahmad Shah mengaku sudah mempersiapkan serangan maut itu. "Saya tahu jika terdesak, tentara Amerika akan memanggil kawan mereka. Itu hukum yang berlaku dalam pertempuran."

Dalam pertempuran Abbas Ghar itu 11 personel Navy Seals dan 8 kru helikopter tewas. Sementara dari pihak Taliban diperkirakan 35 orang tewas.

Marcus Luttrell menjadi satu-satunya prajurit yang selamat dalam misi itu. Dia bertahan semalaman dalam keadaan terluka dan kehausan. Dalam keadaan sekarat dia diselamatkan oleh seorang warga Afghanistan.

Amerika Serikat berduka. Operasi Red Wings dicatat sebagai salah satu hari terburuk dalam sejarah Navy Seals. Belum pernah ada misi yang mengorbankan nyawa sebanyak ini sebelumnya.

Luttrell trauma selama bertahun-tahun. Dia kemudian menulis buku berjudul Lone Survivor tentang peristiwa ini sebelum akhirnya diangkat ke layar lebar.

(mdk/ian)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP