Ini alasan Turki jadi tempat favorit WNI menyusup gabung ISIS
Merdeka.com - Hilangnya 16 Warga Negara Indonesia, termasuk empat balita, di Turki pekan lalu menimbulkan kegemparan. Interpol menyatakan mereka diduga kuat hendak menyeberang ke Suriah, lalu bergabung dengan Negara Islam Irak dan Syam (ISIS). Dugaan ini dikuatkan oleh Badan Intelijen Negara dan Kementerian Luar Negeri.
Jika benar bergabung, 16 WNI yang menggunakan visa turis itu lebih sukses dibanding 6 orang yang dicokok Polda Metro Jaya di Bandara Soekarno Hatta pada 27 Desember 2014. Saat itu mereka tertangkap karena sudah terpantau sejak lama, dengan rencana terbang ke Suriah melalui Qatar.
Jalur darat melalui Turki terbukti lebih aman bagi simpatisan ISIS asal luar negeri. Laporan mendalam International Business Times (3/9), menjelaskan bagaimana alur pejuang khilafah asing, termasuk dari Indonesia, bisa sampai ke Suriah atau Irak.
Sebagian besar tak lagi menggunakan pesawat rute penerbangan langsung ke Damaskus, Suriah. "Semua rute perjalanan ini punya satu kesamaan, transit di Turki. Kemudian mereka menembus perbatasan darat ke Suriah," tulis Alesandria Masi.
Pemerintah Turki bukannya tidak sadar dengan potensi itu. Sudah ada 10 ribu nama dilarang masuk negara ini, karena diduga hendak bergabung dengan ISIS.
"Karena itu, tantangan terbesar simpatisan ISIS yang ingin bergabung adalah memasuki Turki tanpa terdeteksi," imbuh Masi.
Kenapa perbatasan Turki jadi lokasi favorit simpatisan ISIS menyusup? Kepala Bagian Politik Kedutaan Besar Republik Indonesia di Damaskus Didi Wahyudi punya jawabannya.
Perang saudara di Suriah sejak tiga tahun lalu membuat perbatasan kosong melompong. Petugas imigrasi pun hanya seadanya.
"Memang paling mudah masuk ke Suriah itu lewat Turki. Karena (mdk/ard)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya