Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Imbas kebijakan Trump, buronan ISIS kelas wahid tak bisa pergi ke AS

Imbas kebijakan Trump, buronan ISIS kelas wahid tak bisa pergi ke AS Buronan ISIS Vian Dakhil. ©2017 yazda.org

Merdeka.com - Kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang melarang pendatang dari tujuh negara Muslim membuat musuh-musuh Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) tidak bisa terbang ke negara adidaya itu. Salah satu di antaranya adalah Vian Dakhil, buronan kelas wahid ISIS, yang juga keturunan Yazidi.

Dilansir harian Daily Mail, Kamis (2/2), Vian merupakan etnis Yazidi yang menjadi anggota parlemen Irak. Dia didapuk menjadi satu-satunya menjadi buronan ISIS karena memohon bantuan internasional agar menghentikan kelompok militan tersebut demi menyelamatkan sukunya dari pembantaian.

Perjuangannya itu menarik simpati kelompok hak asasi manusia di AS, dan menganugerahinya sebagai pejuang kemanusiaan. Namun, penghargaan itu sepertinya tak bisa dia terima mengingat larangan yang diberikan Trump terhadap warga negara Irak selama 90 hari.

Menurut rencana, dia menerima penghargaan tersebut pada 8 Februari nanti, dari Lantos Human Rights Prize yang diserahkan di Washington DC. Penghargaan itu diberikan oleh yayasan yang mengambil nama Tom Lantos, pria yang selamat dari aksi pembersihan etnis Nazi dan terpilih sebagai anggota Kongres AS.

Yayasan ini menganggap Vian sangat berani untuk membela rakyat Yazidi yang bertaruh nyawa dari aksi pembantaian besar-besaran oleh militan ISIS. Dia juga melakukan sejumlah misi penyelamatan terhadap wanita Yazidi dari perbudakan seks.

"Saya sudah memiliki visa, tetapi belum jelas apakah saya bisa berangkat," kata Vian pada NBC News.

Saat ini dia masih berada di Baghdad. Namun, dia memilih tidak berangkat karena takut mendapatkan penolakan.

"Saya takut seseorang di bandara AS berkata pada saya, 'tidak', dan saya tidak bisa masuk," tambahnya.

Jumat lalu, Trump menandatangani perintah eksekutif yang melarang tujuh negara mayoritas Muslim untuk memasuki AS, di mana Irak termasuk di dalamnya. Bahkan, aturan itu juga berlaku terhadap warga AS yang sudah memiliki status kependudukan yang legal, termasuk pemegang kartu hijau serta visa yang berlaku,

Teror yang dialami para penduduk Yazidi, etnis minoritas Kurdi, yang tinggal di bagian utara Irak dan Suriah terjadi pada Agustus 2014 lalu. Perkampungan mereka diserang secara tiba-tiba oleh kelompok militan ISIS, yang pria dibantai dan para wanita dijadikan budak seks.

Vian langsung bersuara kepada dunia agar membantu menyelamatkan etnis tersebut dari pembantaian dan perbudakan. Permintaan itu dipenuhi Presiden Barack Obama dengan memerintahkan pesawat tempurnya untuk membombardir wilayah yang dikuasai ISIS.

(mdk/tyo)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP