Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Hindari Aparat Keamanan, Dokter & Perawat di Myanmar Demo Saat Subuh

Hindari Aparat Keamanan, Dokter & Perawat di Myanmar Demo Saat Subuh Dokter di kota Mandalay, Myanmar, mulai melakukan aksi unjuk rasa pada waktu subuh.. ©Stringer/AFP

Merdeka.com - Para dokter dan perawat di kota Mandalay, Myanmar, memulai aksi unjuk rasa anti kudeta dengan menggelar pawai damai saat subuh, untuk meminimalisir konfrontasi dengan pasukan keamanan.

Video yang diunggah portal berita Mizzima menunjukkan ratusan orang, kebanyakan memakai jas putih, berbaris di jalanan yang sepi pada Minggu.

“Kegagalan rezim militer, tujuan kami, tujuan kami,” teriak mereka, dikutip dari Al Jazeera, Senin (22/3).

Aksi ini berlangsung ketika Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik (AAPP) menyampaikan sedikitnya 247 orang telah terbunuh selama unjuk rasa nasional menentang kudeta militer 1 Februari.

Semua orang yang meninggal merupakan korban penembakan, dalam banyak kasus, mereka ditembak di kepala.

Angka kematian bertambah pada Minggu ketika pasukan keamanan menembak sekelompok orang yang membentuk barikade di pusat kota Monywa, menewaskan sedikitnya satu orang dan melukai beberapa orang lainnya, seperti disampaikan seorang dokter kepada Reuters.

Sementara itu, pengunjuk rasa di hampir 20 lokasi di seluruh negeri menyalakan lilin pada Sabtu malam sampai Minggu, dari pusat kota Yangon sampai komunitas kecil di negara bagian Kachin di utara dan daerah Kawthaung.

Pengunjuk rasa di beberapa tempat diikuti oleh biksu Buddha yang memegang lilin, sementara beberapa orang menggunakan lilin untuk membentuk tanda protes tiga jari.

Juru bicara pemerintah militer tidak dapat dihubungi untuk dimintai komentar, tetapi sebelumnya mengatakan pasukan keamanan menggunakan kekuatan hanya jika diperlukan.

Jokowi minta kekerasan dihentikan

kekerasan dihentikan rev1Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.com

Negara-negara Barat berulang kali melontarkan kecaman atas kudeta dan kekerasan aparat. Negara-negara Asia, yang kerap menolak mengkritik negara tetangganya, mulai bersuara.

Pada Jumat, Presiden RI, Joko Widodo mengatakan kekerasan aparat harus dihentikan segera. Jokowi juga menyerukan pertemuan segera negara ASEAN, di mana Myanmar juga merupakan anggotanya.

Perdana Menteri Malaysia, Muhyiddin Yassin mendukung seruan Jokowi, mengatakan dia terkejut dengan penggunaan kekuatan mematikan yang terus menerus oleh pasukan keamanan terhadap warga sipil. Singapura juga menyuarakan hal yang sama.

Pada Sabtu, pemimpin kudeta mengunjungi kepulauan Coco, salah satu pulau terluar yang sangat strategis, yang berada 400 kilometer selatan Yangon, dan mengingatkan anggota pasukan bersenjata di sana bahwa tugas utama mereka adalah melindungi negara dari ancaman asing.

Kepulauan tersebut dekat dengan beberapa rute pelayaran penting dunia, di perairan tempat China dan India berusaha memproyeksikan kekuatan mereka.

(mdk/pan)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP