Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Hari Ini Tak Ada Tempat untuk Sekadar 'Apa Kabar', Tapi 'Apakah Kau Masih Hidup?'

Hari Ini Tak Ada Tempat untuk Sekadar 'Apa Kabar', Tapi 'Apakah Kau Masih Hidup?' Kendaraan militer hancur lebur di Bucha Ukraina. ©REUTERS/Serhii Nuzhnenko

Merdeka.com - Zakhida Adylova (35), seorang guru bahasa dan produser talk show politik yang tinggal di ibu kota Ukraina, Kiev.

Dia seorang Tatar Krimea, etnis minoritas Muslim yang dideportasi paksa dari tanah air mereka, Semenanjung Krimea, ke Uzbekistan pada 1944 atas perintah Joseph Stalin.

Pada 1993, Zakhida kembali dari tempat pembuangan itu dengan keluarganya ke Krimea, Ukraina. Lalu pada 2014, dia dan putrinya terpaksa meninggalkan rumah mereka di Krimea menuju Kiev setelah Rusia mencaplok semenanjung itu. Ibunya menyusul Zakhida setahun kemudian.

Saat ini, Zakhida, ibu, dan putrinya menghadapi invasi Rusia, berlindung di kamar mandi dan lorong apartemen mereka. Zakhida menyimpan sebuah diary sejak perang dimulai. Ini adalah kisah yang dituliskannya, seperti dikutip dari Al Jazeera, Kamis (3/3).

Hari Ketujuh: 2 Maret 2022

Pukul 09.00-11.00: Saya lanjutkan membicarakan perang di Ukraina dan realitas situasi saat ini melalui wawancara dengan media internasional. Hari ini, saya berbicara dengan Australian Broadcasting Corporation (ABC) dan kemudian dengan stasiun radio Swedia, P3 Nyheter.

Mereka semua mengajukan pertanyaan yang sama. Mereka bertanya apa yang saya rasakan dan bagaimana kabar saya.

Pertanyaan-pertanyaan ini sangat memusingkanku. Menurut kalian apa yang dirasakan seseorang dalam keadaan seperti itu?

Guys, kebenaran mendasar adalah kami tidak aman. Tidak ada tempat untuk "Bagaimana kabarmu?" atau "Apa kabar?" atau "Oke" atau "Baik".

Ketika saya bangun setiap pagi, pertanyaan pertama yang saya tanyakan kepada putri saya yang berusia 11 tahun, Samira, dan ibu saya yang berusia 74 tahun, Abibe, adalah, "Apakah kamu masih hidup?" Ketika saya mendengar mereka menjawab saya bisa menarik napas. Napas lega.

Jangan tanyakan pertanyaan ini. Kita harus berhenti melakukannya. Hari-hari ini, kami saling menyapa dengan mengatakan: "Kejayaan untuk Ukraina."

Pukul 12.00: Saya marah mendengar warga Ukraina tak berdosa meregang nyawa (kemarin Rusia menembakkan roket di menara televisi utama Kiev, menewaskan sedikitnya lima warga sipil), bayi-bayi lahir di tempat berlindung dari bom, dan para lansia tidak bisa mengakses perawatan medis. Dan saya juga marah melihat hewan-hewan peliharaan dengan kalungnya dipisahkan dari pemiliknya berkeliaran di jalan-jalan sebagai hewan liar mencari makanan.

Pukul 13.53: Dalam wawancara saya, saya memohon kepada kumpulan peretas internasional Anonymous (kelompok yang mendeklarasikan perang siber pada Rusia pada 24 Februari) untuk meretas saluran televisi pemerintah Rusia dan menampilkan foto-foto invasi. Orang-orang ini luar biasa. Terima kasih, Anonympus, karena membela Ukraina.

Kemenangan ada dalam persatuan. Saya merayakan solidaritas ini hari ini dengan lumpia goreng lezan buatan ibu saya.

(mdk/pan)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP