Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Hampir setahun, Asiana akui kesalahan pilot penyebab kecelakaan

Hampir setahun, Asiana akui kesalahan pilot penyebab kecelakaan Pesawat jatuh di San Francisco. ©REUTERS

Merdeka.com - Maskapai penerbangan asal Korea Selatan Asiana Airlines hari ini untuk pertama kalinya mengakui bahwa kesalahan pilot kemungkinan jadi penyebab dari kecelakaan menimpa salah satu pesawatnya di Kota San Francisco, Amerika Serikat, pada tahun lalu yang menyebabkan tiga orang meninggal.

Namun, dalam sebuah pernyataannya, maskapai berdiri pada 1988 itu mengutip faktor lain, termasuk masalah teknis dengan sistem autothrottlet pesawat, seperti dilansir situs relax.com.sg, Selasa (1/4).

Autothrottlet dapat memungkinkan pilot untuk mengontrol pengaturan daya dari mesin pesawat dengan menentukan karakteristik penerbangan yang diinginkan, bukan mengontrol manual aliran bahan bakar.

Ketika pesawat ingin mencapai daratan setelah penerbangan rutin dari Seoul ke San Francisco pada 6 Juli 2013, pesawat Asiana Airlines Penerbangan 214 tersandung tembok tepi laut dengan roda pendaratan, tergelincir dari landasan pacu dan terbakar.

"Kemungkinan penyebab kecelakaan ini adalah kegagalan kru penerbangan untuk memantau dan menjaga kecepatan minimal aman selama pendekatan akhir," ujar pernyataan dari Asiana Airlines.

Ini mengakibatkan pesawat menyimpang dari lajur saat akan memasuki landasan pacu yang menyebabkan pesawat menghantam tembok tepi laut.

Tiga orang tewas dan hampir 200 orang lainnya terluka dalam kecelakaan itu.

Pernyataan itu juga menjelaskan bahwa kru kokpit telah disesatkan oleh 'inkonsistensi' dari sistem otomatis Boeing 777-200ER, yang menyebabkan mereka percaya sistem autothrottlet tetap menjaga kecepatan pesawat.

Asiana Airlines mengatakan kesimpulan mereka itu telah diserahkan pada 17 Maret kepada Badan Keselamatan Transportasi Nasional Amerika (NTSB), yang memimpin penyelidikan itu.

NTSB bersikeras sistem autopilot hanya memainkan peran komplementer dan bahwa pilot diwajibkan untuk memantau peralatan mereka dan memperhatikan sekeliling mereka untuk mencegah kecelakaan.

NTSB mengatakan sistem autopilot dimatikan sekitar tiga mil (4,8 kilometer) setelah terbang, dan kecepatan turuh hingga serendah 103 knot (191 kilometer per jam), atau 34 knot di bawah kecepatan pendekatan ideal.

Pesawat turun begitu rendah sehingga barisan lampu pada akhir landasan pacu, sebuah bantuan visual utama untuk mendarat, menunjukkan empat lampu merah, situasi yang akan meminta pesawat untuk membatalkan pendaratan.

Asiana membela dua pilot, Lee Kang-Kuk dan Lee Jung-Min, dengan mengatakan mereka pilot kompeten, yang telah terbang puluhan kali baik ke dan dari San Francisco.

(mdk/fas)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP