Gempa tewaskan 430 jiwa, bencana terburuk Ekuador abad ini
Merdeka.com - Upaya penyelamatan korban gempa 7,8 skala richter di Kota Pedernales, Ekuador, memperoleh satu cerita inspiratif. Seorang remaja perempuan dilaporkan selamat walau terkubur reruntuhan selama 20 jam. Di Kota Manta, tim SAR juga berhasil menyelamatkan tiga penyintas lainnya.
Namun, secara keseluruhan korban jiwa terus bertambah. Gempa ini menjadi bencana alam terburuk bagi rakyat Ekuador selama setengah abad terakhir. Data pemerintah menyatakan hingga Senin (18/4) malam waktu setempat, korban tewas 413 orang. Lebih dari 2.000 lainnya luka-luka.
Presiden Rafael Correa khawatir peningkatan jumlah korban ini belum akan berhenti. Soalnya lindu menghajar kawasan padat penduduk yang berada di kota-kota tujuan wisata Ekuador.
"Prioritas kami sekarang mengerahkan tim SAR ke wilayah puing-puing yang menandankan banyak kehidupan," kata Correa seperti dilansir the Independent.
Situasi di seantero Ekuador sekarang masih hiruk pikuk dan cenderung tidak terkendali. Infrastruktur utama hancur, termasuk jembatan penghubung provinsi di Guayaquil yang ambruk. Enam provinsi menyatakan darurat bencana belum berakhir. Setelah gempa akhir pekan lalu, hingga berita ini dilansir muncul 200 getaran susulan.
Ekuador terakhir kali mengalami bencana seburuk ini adalah saat Kota Ambato diguncang gempa pada Agustus 1949. Ketika itu lebih dari 5 ribu warga tewas.
Titik utama evakuasi kini diarahkan di Pedernales. Banyak warga mengaku keluarganya masih terjebak di reruntuhan. Wali Kota Gabriel Alcivar memperkirakan jumlah yang terjebak mencapai lebih dari 200 orang.
Bantuan internasional mulai berdatangan ke Ekuador sejak kemarin. UNHCR, lembaga di bawah naungan PBB, akan mengirim tim untuk merawat korban. Amerika Serikat juga dilaporkan sudah mengirim tentara dan perawat. Bank Dunia berencana mengucurkan USD 150 juta demi membangun kembali bangunan yang hancur di pelbagai kota.
Ekuador merupakan wilayah rawan gempa, karena masuk wilayah cincin api pasifik. Kendati demikian, gempa Ekuador dan Jepang yang terjadi hanya selisih satu hari, menurut ilmuwan tidak terkait lempeng tektonik yang sama.
(mdk/ard)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya