Galak bela HAM, suara Aung San Suu Kyi tak terdengar buat Rohingya
Merdeka.com - Setiap kali muncul isu kemanusiaan akibat diskriminasi etnis Rohingya di Myanmar, semua mata di dunia memandang satu nama: Aung San Suu Kyi. Wanita yang demikian perkasa di bidang hak asasi maupun perjuangan menegakkan demokrasi, tapi melempem mengatasi satu masalah mendasar di dalam negerinya.
Tokoh-tokoh dunia sudah menyerukan agar Suu Kyi tidak terlalu pasif. Sebagai sosok yang sangat dihormati di Myanmar, seharusnya dia bisa menegaskan sikap, berada di sisi Rohingya atau sekalian mendukung diskriminasi junta militer selama empat dekade terakhir pada warga minoritas muslim itu.
Setelah lebih dari 8 ribu pengungsi Rohingya terombang-ambing di sekitar Selat Malaka tiga pekan terakhir, Suu Kyi kembali diminta berperan lebih nyata.

Salah satu yang sudah gemas dengan diamnya Suu Kyi adalah Pemimpin spiritual Tibet, Dalai lama. Dia mendesak peraih Nobel Perdamaian satu-satunya di Myanmar itu melobi pemerintah Myanmar agar memberi perlakuan lebih manusiawi pada minoritas Rohingya. Khususnya yang masih berada di Provinsi Rakhine.
"Saya telah bertemunya dua kali, saat di London dan di Ceko, dia mengutarakan bahwa ini adalah kasus sulit dan tidak mudah, namun saya yakin dia bisa berbuat sesuatu," kata Dalai Lama kemarin, seperti dilansir Channel News Asia.
Ketika Suu Kyi dibebaskan dari tahanan rumah pada 2010, banyak orang menilai dia akan menjadi presiden Myaanmar di masa mendatang. Sekalipun baru bergabung di parlemen, tapi banyak pengamat berharap wanita 69 tahun itu bisa menelurkan kebijakan progresif. Nyatanya tidak.
"Saya pikir sekarang semua orang setuju, dia sudah mengecewakan dalam hal pembelaan hak asasi manusia," kata David Mathieson, peneliti senior di lembaga pembela hak asasi Human Right Watch (HRW).
Pada 2012, Liga Nasional Demokrasi (NLD) yang dipimpin Suu Kyi sempat membuat kemajuan, dengan menggodok UU perlindungan minoritas. Apa lacur, beleid itu sampai sekarang tidak kunjung tuntas.
Malah keluar aturan mengatur kelahiran saban tiga tahun. UU itu, diyakini khusus menyasar warga Rohingya.
Tekanan bagi Suu Kyi memang besar. Bahkan di kalangan pendukungnya, Rohingya tidak pantas dibela. Saat pidato di hadapan parlemen pada 2012, Suu Kyi ama sekali tidak menyebut kata 'Rohingya' dan hanya menggunakan istilah 'etnis minoritas'. Banyak pendukung NLD termasuk jajaran yang tidak menganggap warga Rohingya sebagai penduduk sah Myanmar.
Suu Kyi pernah 'curhat' betapa dia dikecam karena terkesan diam atas isu Rohingya. Secara tidak langsung, perempuan yang sangat ditakuti militer Myanmar ini bilang bahwa yang membenci Rohingya adalah para pendukungnya.
"Mereka menginginkan saya berbicara bagaimana caranya menghilangkan perbedaan-perbedaan terjadi di masyarakat, tetapi saya bukan pesulap," kata Suu Kyi saat (mdk/ard)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya