Duka Prancis, Api Kebencian Merenggut Nyawa Seorang Guru
Merdeka.com - Ribuan orang Minggu kemarin turun ke jalan di Ibu Kota Paris, Prancis dan seantero negeri demi menunjukkan rasa solidaritas dengan seorang guru sekolah menengah yang dipenggal lantaran isu kebencian.
Samuel Paty dibunuh di luar sekolah Jumat lalu setelah dia membahas soal kartun Nabi Muhammad dengan murid-muridnya dalam pelajaran kewarganegaraan di kelas.
Dikutip dari laman Aljazeera, Senin (19/10), para pengunjuk rasa yang berkumpul di Place de la Republique mengangkat tinggi-tinggi spanduk bertuliskan: "Katakan tidak kepada totalitarianisme pikiran" dan "Saya guru" sebagai bentuk penghormatan kepada sang guru.
"Kalian tidak membuat kami takut. Kami tidak takut. Kalian tidak akan memecah belah kami/ Kami Prancis," cuit Perdana Menteri jean Castex yang ikut bergabung dengan massa dalam demo di Paris itu.
Castex ditemani Menteri Pendidikan Jean-Michael Blanquer, Wali Kota Paris Anne Hidalgo dan Menteri Muda Dalam Negeri Marlene Schiappa yang mengatakan dia ikut berdemo untuk mendukung para guru soal sekularisme dan kebebasan berekspresi. Politisi dari sejumlah partai juga ikut dalam unjuk rasa itu.
Foto di ponsel
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comSebagian kerumunan meneriakkan kata-kata "Saya Samuel", mengingatkan orang kepada "Saya Charlie Hebdo" ketika 12 orang tewas ditembak di kantor majalah satir Charlie Hebod di Paris pada 2015 setelah majalah itu menerbitkan kartun Nabi Muhammad.
"Saya di sini sebagai seorang guru, seorang ibu, perempuan Prancis dan republikan," kata seorang pendemo bernama Virginie.
Pemerintah kota mengatakan ada sekitar 12.000 orang dalam demo di Kota Lyon, sebelah timur Prancis.
Di Toulouse, sebelah barat daya Prancis, hampir 5.000 orang turun ke jalan.
"Seluruh komunitas pendidikan merasakan dampaknya dan masyarakat secara keseluruhan," ujar wakil dari Serikat Guru Bernard Deswarte.
Sebuah foto sang guru dan pesan pelaku yang mengakui perbuatannya ditemukan di ponsel pembunuhnya, Abdullakh Anzorov, remaja 18 tahun kelahiran Chechnya yang kemudian tewas ditembak polisi.
Saksi mengatakan pelaku terlihat di sekolah pada Jumat lalu menanyakan di mana dia bisa menemukan Samuel Paty.
Serangan teroris
Sabtu lalu jaksa anti-teror Jean-Francois Ricard mengatakan Paty belakangan ini menjadi target ancaman di dunia maya karena memperlihatkan kartun Nabi di kelasnya.
Presiden Prancis Emmanuel Macron menyebut insiden ini sebagai serangan teroris.
Ayah dari seorang murid perempuan melancarkan seruan di dunia maya untuk "memobilisasi" sang guru dan mendesak guru itu dipecat.
Pria itu kemudian menyebarkan nama Paty dan sekolah tempat dia mengajar di media sosial sehari sebelum dia dibunuh.
Ayah dari murid perempuan itu kemudian termasuk dari sejumlah orang yang ditangkap beserta empat keluarga Anzorov.
Kedutaan Rusia di Paris mengatakan keluarga Anzorov datang ke Prancis dari Chechnya ketika dia masih berusia enam tahun sewaktu mencari suaka.
Menurut pihak sekolah, Paty sudah meminta siswa muslim untuk meninggalkan kelas sebelum dia memperlihatkan kartun Nabi dengan alasan dia tidak mau menyakiti perasaan mereka.
Kamel Kabtane dari dewan masjid Lyon dan tokoh muslim seniro mengatakan kepada AFP, Paty sebetulnya hanya menjalankan tugasnya dan dia melakukannya dengan cara yang penuh hormat.
Dewan Keamanan Prancis Minggu kemarin akhirnya menyetujui untuk meningkatkan keamanan di sekolah ketika kegiatan belajar mengajar dilanjutkan setelah masa liburan.
(mdk/pan)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya