Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Dubes AS Beri Bocoran soal Proposal Perdamaian Israel-Palestina dari Trump

Dubes AS Beri Bocoran soal Proposal Perdamaian Israel-Palestina dari Trump Nikki Haley. ©2017 cnbc.com

Merdeka.com - Duta Besar Amerika Serikat untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, Nikki Haley, memberi bocoran soal proposal AS --yang belum diumumkan-- tentang perdamaian Israel-Palestina. Dia mengatakan dokumen yang disiapkan "memiliki banyak sisi yang akan disukai dan hal-hal yang tidak akan mereka sukai."

Haley mengatakan warga Israel dan Palestina serta negara-negara di seluruh dunia memiliki pilihan: fokus pada bagian-bagian yang tidak mereka sukai, yang katanya berarti kembali "ke status quo yang gagal dalam 50 tahun terakhir," atau fokus pada bagian-bagian yang mereka sukai dan mendorong perdamaian negosiasi untuk maju.

Kendati demikian, Haley juga mengatakan bahwa proposal itu "memerlukan waktu yang lebih lama" dan "teknologi baru" untuk bisa dipersiapkan, demikian seperti dikutip dari Al Jazeera, Rabu (18/12).

Berbicara pada pertemuan Dewan Keamanan PBB dua hari lalu Haley tidak memberikan rincian nyata tentang apa yang Presiden AS Donald Trump sebut sebagai "kesepakatan abad ini (deal of the century)."

"Ini jauh lebih lama. Ini mengandung lebih banyak detail yang bijaksana," kata Haley kepada dewan.

"Ia mengakui bahwa realitas di Timur Tengah telah berubah besar dan semakin penting."

"Orang-orang Palestina memiliki keuntungan dengan terlibat dalam negosiasi perdamaian," kata Haley.

"Rencana ini akan berbeda dari yang sebelumnya. Pertanyaan kritisnya adalah apakah responnya akan berbeda."

Rencana itu, yang dipelopori oleh menantu Presiden Trump, Jared Kushner, dan utusan AS Jason Greenblatt, dimaksudkan untuk menghidupkan kembali proses perdamaian yang macet dan tidak aktif antara Israel dan para pemimpin Palestina.

Macetnya negosiasi dipicu oleh status Yerusalem dan perluasan yang sedang berlangsung dari proyek pemukiman ilegal di Palestina yang diduduki.

Haley mengatakan, negosiasi akan bergerak maju ke arah perdamaian dan hal itu "membutuhkan pemimpin dengan visi nyata untuk melakukannya."

Namun para pemimpin Palestina telah menolak untuk berpartisipasi dalam upaya yang dipimpin AS sejak Desember 2017, ketika pemerintahan Trump berbalik dari kebijakan AS selama puluhan tahun dengan mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel dan memindahkan kedutaan AS dari Tel Aviv ke kota berjuluk Al Quds Al Sharif itu.

Sebagai tanggapan, Riyad Mansour, Duta Besar Palestina untuk PBB, mengatakan kepada wartawan bahwa rencana itu "mati pada saat kedatangan" dan mendesak agar AS kembali pada negosiasi yang berkonsensus.

"Dia (Haley) menolak untuk mendengarkan posisi kami yang telah didengarnya selama dua tahun terakhir dan dia tetap berlanjut tanpa mendengarkan. Ia kemudian melanjutkan dan bersikeras bahwa penggantian konsensus global dengan sesuatu yang sangat kabur, yang tidak kami ketahui akan berhasil," Kata Mansour.

"Dia salah. Itu tidak akan berhasil. Satu-satunya yang memiliki peluang sukses adalah menerapkan konsensus global."

Reporter: Rizki Akbar Hasan

Sumber: Liputan6.com

(mdk/pan)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP