Drama Kudeta Turki: Gulen vs Erdogan dari kawan jadi lawan
Merdeka.com - Drama di Turki berakhir. Upaya ratusan personel militer sepanjang Jumat (15/7) hingga Sabtu (16/7) dini hari menggulingkan Presiden Reccep Tayyip Erdogan gagal total. Rakyat Turki menolak kudeta, demikian juga petinggi militer. Tak terkecuali negara-negara sekutu Turki seperti Amerika Serikat, Inggris, Arab Saudi, hingga Jerman, semua mendukung Erdogan.
Ketika situasi di Ankara dan Istambul berangsur-angsur normal, satu nama disebut oleh Erdogan. Nama yang belakangan dikenal sebagai musuh bebuyutannya: Fethullah Gulen. Ulama yang sedang mengasingkan diri di Amerika Serikat itu dituding sebagai dalang utama kudeta.
"Kudeta ini adalah upaya Gerakan Gulen yang sudah direncanakan beberapa bulan terakhir. Para pelakunya adalah tentara yang melabrak hirarki komando," kata Erdogan.
Perdana Menteri Binali Yildirim menyuarakan tudingan serupa. Setelah menyatakan upaya kudeta oleh segelintir tentara gagal, dia mengatakan pengikut ulama Gulen akan ditangkap. Menteri Kehakiman Bekir Bozdag memberi keterangan tak jauh berbeda, bahwa otak kudeta ini adalah pengikut Gulen yang kini tinggal di Pennsylvania, Amerika Serikat.

Fethullah Gulen (c) 2016 Merdeka.com/AFP
Siapakah Gulen itu? Jika dia ulama, kenapa bisa sampai dimusuhi Erdogan yang sama-sama Islamis? Kenapa dia berada di luar negeri? Sekuat apa Gulen ini, sampai bisa menggerakkan ribuan tentara melakukan kudeta?
Semua jawaban itu perlu mundur ke beberapa dekade lalu, jauh sebelum Erdogan mulai meniti karir sebagai politikus muda. Kita perlu mengenal lebih dekat Gulen seperti diprofilkan oleh surat kabar the Guardian.
Gulen, pria kelahiran Kota Erzurum pada 1938, pada era 50-an berhasil menjadi ustaz resmi pemerintah Turki. Dia menjadi pendakwah karismatik, mengumpulkan banyak pengikut di kawasan Izmir.
Pada 1971, Gulen melakukan kudeta terhadap pemerintahan junta militer namun gagal. Dia pun dipenjara. Tapi belakangan tekanan publik membuatnya tak dibui.
Gulen memiliki julukan hocaefendi artinya ulama yang terhormat. Pada era 1990-an sosok Gulen adalah ulama sekaligus politikus yang sangat berpengaruh. Dia punya pandangan Islam dan Demokrasi itu saling beriringan.
Sang ulama populer ini mendirikan Gerakan Gulen, sebuah gerakan sosial yang pengaruhnya sangat luas, mencakup Partai Refah (Islam Sejahtera), sebuah parpol Islamis yang dimpimpin Necmettin Erbakan. Sang Perdana Menteri Turki itu akrab dengan Gulen. Otomatis, Gulen juga akrab dengan Erdogan yang pada 1996 menjadi tangan kanan Erbakan.
Hubungan baik itu bertambah erat ketika Partai Refah dibubarkan paksa oleh kelompok sekuler dan militer pada 1998. Erdogan lalu mendirikan Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) pada Agustus 2001. Gulen menjadi mentor, donatur, sekaligus pembina partai secara kultural.
Duet Erdogan-Gulen membuat AKP menjadi partai bercorak Islam paling kuat dalam sejarah Turki modern.
Namun bulan madu keduanya tuntas pada 2013. Gulen tiba-tiba menuding Erdogan melakukan korupsi, memperkaya kroni dan keluarganya.
"Pemerintah tidak serius menangani korupsi," kata Gulen dari pengasingan di Pennsylvania, AS.
Sebagai serangan balik, pemerintah Turki menuding Gulen, yayasannya, serta Gerakan Hizmet yang dia pimpin dari luar negeri sebagai organisasi teroris. Perang opini keduanya berujung pada kekerasan. Pada 6 Maret lalu, polisi (mdk/ard)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya