Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Donald Trump diminta belajar demokrasi dari Islam

Donald Trump diminta belajar demokrasi dari Islam Donald Trump. © Fortune

Merdeka.com - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump telah menerbitkan kembali Perintah Eksekutif baru terkait imigrasi, yang berisi melarang warga dari enam negara mayoritas Muslim untuk masuk ke negaranya. Kebijakan ini sekaligus merevisi aturan sebelumnya yang dicabut Pengadilan Federal.

Sejumlah pihak memandang aturan ini merupakan babak baru kebencian Trump terhadap Muslim, utamanya para pengungsi. Apalagi, dalam kampanyenya lalu dia memandang Islam sebagai ancaman bagi AS.

Dalam tulisannya yang diterbitkan the Washington Post, Kamis (9/3), David Decosimo menyebut kalimat kebencian itu beberapa kali diucapkan Trump. Di antaranya 'Islam membenci kita' dan 'kebencian yang luar biasa' dalam beberapa wawancara dengan televisi.

Salah satu penasihatnya, Stephen K Bannon menyebut 'Kita berada dalam perang langsung terhadap Islam' dan meragukan 'hukum syariah bisa menjadi bagian dari warga AS yang sudah memiliki hukum dan republik demokratis'. Dia yakin Islam 'lebih gelap' dibandingkan Nazi dan sepakat dengan Menteri Pembangunan Perkotaan Ben Carson yang menyatakan 'Islam adalah agama kekuasaan'.

"Tapi Trump dan pemerintahannya harus belajar satu atau dua mengenai nilai-nilai Amerika seperti kebebasan dan kesetaraan atas agama dan orang-orang yang sangat mereka benci," tulis Decosimo yang juga dosen etika dan politik di Universitas Boston.

Decosimo menulis justru demokrasi sudah lebih dulu dibangun di dunia Islam, terutama setelah meninggalnya Nabi Muhammad SAW. Ketika itu, umat Muslim belum memiliki seorangpun yang akan memimpin masa depan Islam dan para pemeluknya. Tidak ada semacam drama, apalagi intrik atau pertumpahan darah saat itu.

Tanpa banyak perdebatan, akhirnya mereka memilih Abu Bakar, salah satu sahabat Nabi. Dalam upacara pelantikannya, dia malah berucap, "Saya tidak lebih baik dari anda semua. Patuhi jika saya benar. Jika sebaliknya, tolak saya. Loyalitas berarti bicara kebenaran. Sanjungan adalah pengkhianatan. Tidak ada manusia, kecuali Allah SWT sebagai raja kalian."

Abu Bakar berusaha menjaga rakyatnya atas kekuasaan yang dimilikinya dengan penuh tanggung jawab. Rakyat diwajibkan, mempertahankan kebebasannya. Mereka bisa menghubunginya kapan saja. dan dia akan mendengarkan. Meski seseorang datang menemuinya untuk bertanya soal pakaian baru.

Bahkan penggantinya, Umar juga mewariskan peninggalan Abu Bakar. Dia pernah ditegur seorang wanita karena dianggap melanggar aturan, dan dia berkata, "wanita ini benar, dan saya salah! Tampaknya semua orang memiliki kebijaksanaan dan wawasan yang lebih dalam dibanding saya".

Semangat keterbukaan dan kebebasan menjadi bagian dari kewajiban dalam agama Islam, dalam tradisi apapun, namun nilai-nilai ini tidak selalu dijunjung. Meski demikian, setiap Muslim wajib menjalankan yang benar dan menjauhi yang salah, mengoreksi dan menghukum siapapun yang tidak adil, tak terkecuali penguasa.

"Abu Bakar dan Umar merupakan paradigma pemerintahan Islam yang baik bagi 1 miliar Muslim Sunni yang memberikan kita sesuatu atas tradisi cinta atas kebebasan," lanjut Decosimo.

Ratusan tahun berikutnya, tepatnya abad ke-12, seorang ahli teologi Islam Imam Gazali pernah menuliskan surat kepada sultan muda. Dia meminta agar pemimpin baru itu benar-benar memahami inti dari kebebasan.

"Prinsip mendasar adalah memperlakukan orang dengan baik, jika anda tunduk dan lain yang Sultan, anda paham sebuah kebenaran di mana anda akan diperlakukan sama," tulis Decosimo mengutip Gazali.

Tidak ada pemimpin yang menanggung sendiri dalam posisi apapun dalam politik. Dosa atas Allah SWT bisa dimaafkan, pelanggaran atas aturan tidak bisa. Dia pun mengingatkan sultan muda itu ancaman Tuhan pada hari penghakiman, terutama bagi pemimpin yang zalim.

"Apa pun yang menimbulkan ketidakadilan kepada umat manusia dalam situasi apapun tidak akan diabaikan saat kebangkitan."

Dalam pandangan Gazali, tirani akan masuk ke lubang neraka.

Sayangnya, sama seperti bangsa Barat, banyak rezim Muslim gagal menghormati pandangan atas kebebasan. Namun, baik pria maupun wanita seperti Malala Yousafzai, Humayun Khan dan para pemuda yang terjun ke Tahrir Square sangat tahu apa yang terbaik soal Islam, tidak seperti ISIS, al-Qaeda, atau pangeran Saudi.

"Baik Islam dan pendiri Amerika sudah sejalan, kebebasan harus dilindungi dari kekuasaan yang sewenang-wenang dan aturan hukum. Impian mereka di mana warga tidak membedakan budak dan tuannya, tapi semuanya setara. Pandangan inilah yang masuk dalam sistem pemerintahan kita."

Di mana Lincoln seakan mengutip ucapan Gazali, "meski saya bukan budak, maka saya tidak akan menjadi tuan. Ini merupakan ekspresi saya atas demokrasi."

"Pandangan ini sedang berada dalam ancaman yang sangat jarang terjadi dalam sejarah kita. Bukan karena Islam, tapi oleh Donald Trump dan pemerintahannya," tulis Decosimo.

This vision is under threat in a way it rarely has been in our history. It is not under threat by Islam, but by Donald Trump and his administration.

Larangan Muslim Trump yang pertama dinilainya kurang ajar, melebihi kekuasaannya dan nyaris menyembunyikan kebenciannya, aturan berikutnya pun tetap sama.

"Yang pertama berapa terangnya aturan itu mengkhianati nilai-nilai kita yang paling dalam. Dan bahaya yang kedua adalah upaya menyembunyikan kekuasaan serta fanatik."

Decosimo melanjutkan, tidak semua pengamat memandang larangan itu bakal memberikan rasa aman bagi warga AS sendiri. Trump dan seluruh menterinya dianggap melawan hukum, memblokir kebebasan dan melancarkan perang atas Islam. Mereka memberikan kewenangan bagi petugas imigrasi dan bea cukai, Departemen Keamanan dalam Negeri dan agen lainnya untuk memecah keluarga, memulangkan pengungsi dan menahan Muslim.

"Dan mereka membuat Trump dan kroni-kroninya secara tidak terbuka memisahkan yang benar-benar mencintai nilai-nilai yang sangat Amerika di mana pemerintah sibuk berkhianat."

Trump memang ingin mengembalikan kejayaan AS. Namun kebebasan datang dari Gazali dan Abu Bakar yang jauh lebih dulu melakukannya yang kini dilanjutkan Madison dan Lincoln, dibandingkan para teroris dan tirani yang mengatasnamakan Islam.

"Jadi, daripada melarang Muslim, Trump harus mendengarkan mereka: Dia mestinya belajar sesuatu soal kebebasan dan kesetaraan, dua nilai yang mungkin tidak pernah dipelajarinya dari sejarah bangsa kita atau konstitusi di mana dia bersumpah."

(mdk/tyo)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP