Dokter Khawatir Covid-19 Akan Seperti Influenza, Butuh Vaksin Baru Setiap Tahun
Merdeka.com - Ian Haydon ikut membantu uji coba vaksin Moderna tahun lalu. Sekarang dia membantu uji coba vaksin Moderna versi terbaru yang dibuat untuk melawan varian virus corona yang baru.
"Setahun lalu saya mencoba vaksin Moderna untuk melihat apakah vaksin ini aman. (Ternyata betul aman!) Sekarang setahun setelah disuntik vaksin saya ingin sampaikan bahwa saya baru saja mendapat dosis ketiga. Percobaan ini akan mengetahui apakah vaksin ini bisa memicu imunitas dan kedua, apakah vaksin ini aman," kata Haydon, pakar komunikasi di Universitas Washington lewat Twitternya Sabtu lalu.
"Belum tahu apakah vaksin versi terbaru ini diperlukan atau tidak," kata Haydon kepada CNN dalam wawancara via telepon yang dilansir Senin (5/4).
Para dokter kini khawatir virus corona bakal seperti influenza yang berarti dibutuhkan vaksin baru setiap tahun karena perputaran varian barunya bermutasi cukup cepat dan karena imunitas dari vaksin juga bisa cepat berkurang.
Meski bukti memperlihatkan imunitas dari vaksinasi terhadap virus corona saat ini memberikan perlindungan yang cukup lama, namun para pembuat vaksin mulai membuat dan menguji coba vaksin versi terbaru yang memberikan perlindungan terhadap varian virus corona terbaru. Termasuk varian B.1.352 yang pertama muncul di Afrika Selatan dan hasil percobaan di laboratorium memperlihatkan varian itu mampu sedikit menghindari respons imun tubuh.
Laporan teranyar dari perusahaan pembuat vaksin, Pfizer, memperlihatkan warga Afrika Selatan yang sudah mendapat vaksin Covid-19 setelah kemunculan varian B.1.351 yang cukup dominan di sana, masih memiliki perlindungan yang kuat dari penularan. Hal ini sesuai dengan uji coba di laboratorium yang memperlihatkan vaksin memberikan respons imun yang kuat dan perlindungan dari berbagai mutasi virus.
"Masih cukup tertandingi dan kita punya perlindungan yang bagus," ujar Scott Hensley, imunolog dan pakar vaksin dari Universitas Pennsylvania.
Namun para pembuat vaksin tidak mau mengambil risiko. Uji coba yang dilakukan Haydon tidak hanya menguji dosis ketiga dari vaksin Moderna versi terbaru untuk melindungi diri dari varian B.1.351--tapi dosis ketiga ini juga bagi sejumlah sukarelawan, untuk melihat apakah bisa memberikan respons imun yang aman.
Laporan bulan lalu dari Pfizer menyatakan orang yang sudah mendapat dua dosis vaksin tetap mempunyai imunitas yang kuat setidaknya sampai enam bulan.
Perlindungan dari dua dosis vaksin Pfizer masih di atas 91 persen pada enam bulan setelah disuntik, kata perusahaan Pfizer.
Hensley mengatakan teknologi yang digunakan oleh vaksin Moderna dan Pfizer memakai metode mRNA dan cukup kuat.
"Respons antibodi dari vaksin mRNA ini cukup tinggi. Kita tahu, respons antibodi ini bertahan cukup lama dan tidak berkurang seiring berjalannya waktu," kata Hensley yang sudah menguji vaksin mRNA selama bertahun-tahun di laboratorium.
(mdk/pan)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya