Diserbu 200 pendaki, Everest bakal jadi gunung mematikan
Merdeka.com - Diperkirakan lebih dari 200 pendaki akan mencoba menaklukkan puncak Everest akhir pekan ini. Jumlah ini mungkin tak terlalu besar namun di Everest, angka ini sudah melewati ambang batas keselamatan. Kalau ratusan orang ini benar-benar bakal mendaki puncak tertinggi di dunia tersebut, bukan tak mungkin akan ada korban jiwa.
"200 Orang mendaki gunung (Everest) di akhir pekan yang sama sudah melewati batas. 25 Sampai 30 orang per hari masih tidak masalah tetapi 200 jelas sudah terlalu banyak," jelas Pemba Dorje Sherpa, pemegang rekor pendakian Everest tercepat selama delapan tahun pada AFP (25/05).
Penyebabnya jelas adalah durasi pendakian yang jadi semakin lama. Kalau 200 orang lebih ini mendaki Everest pada waktu yang hampir bersamaan, maka proses pendakian akan memakan waktu lebih lama. Akibatnya, para pendaki akan didera cuaca ekstrem dalam waktu yang lebih lama pula. Kelelahan dan altitude sickness bisa berakibat fatal.
Satu pekan sebelumnya, empat orang pendaki meninggal karena kondisi yang sama namun sepertinya pemerintah Nepal masih belum membatasi jumlah pendaki Everest. Everest memang jadi sumber pendapatan buat Nepal. Para pendaki sepertinya tak keberatan membayar sekitar USD 35.000 sampai USD 50.000 hanya untuk mendapatkan kebanggaan.
"Yang memprihatinkan, gunung dan para Sherpa ini sudah dieksploitasi hanya untuk kebanggaan," ujar Peggy Luce, wanita asal Amerika Serikat yang juga akan mendaki Everest. "Kebanyakan orang mendaki untuk alasan yang salah. Mereka mendaki bukan karena mencintai olah raga ini. Mereka mendaki karena ingin bisa membanggakan diri karena sudah berhasil mendaki Everest," lanjut Luce kemudian.
Lebih dari 220 pendaki telah menjadi korban keganasan gunung Everest. Setengah dari angka tersebut adalah korban dalam dua puluh tahun terakhir saat pendakian Everest dieksploitasi untuk kepentingan komersil. (mdk/roc)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya