Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Dilema di balik meningkatnya turis asing ke Korea Utara

Dilema di balik meningkatnya turis asing ke Korea Utara Pemuda Korea Utara menari dalam perayaan ulang tahun pemimpin negara Kim Jong-il. EPA/KCNA

Merdeka.com - Jumlah warga asing yang mengunjungi Pyongyang meningkat tajam sejak pertemuan bersejarah dua Korea April lalu. Penduduk lokal mengatakan citra negara Korut kini berubah menjadi lebih damai dan aman.

Terutama untuk restoran Okryu-gwan yang menyediakan makanan tradisional Pyongyang berupa mi dingin yang disajikan pada jamuan makan malam pemimpin Korut Kim Jong-un dan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in. Makanan ini menarik minat banyak warga asing yang datang ke Pyongyang.

Menurut warga setempat kehadiran turis asing ke Pyongyang membuat restoran-restoran, kebun binatang dan tempat bersejarah makin ramai dikunjungi, terutama dalam beberapa bulan terakhir.

Okryu-gwan didirikan pada 1960 di Pyongyang. Restoran ini mampu menyajikan 6.000 porsi mi dingin khasnya saban hari. Restoran ini juga sanggup menampung 2.000 tamu sekaligus.

"Mi dingin Pyongyang menarik perhatian dunia internasional dan menjadi simbol perdamaian dan kesejahteraan selepas pertemuan dua-Korea," kata Myong Ye Hua, pelayan di Okryu-gwan kepada Kyotoi News, yang dilansir laman Mainichi, Senin lalu.

Di malam hari para turis juga bisa menikmati suasana Pyongyang dan makan di restoran kapal di Sungai Taedong.

"Sekarang banyak turis yang merasa harus mengunjungi restoran kapal ini ketika datang ke Korea Utara," kata Cha Su Jong, pelayan restoran.

Jumat lalu sekitar 12 ribu mahasiswa berkumpul di Alun-Alun Kim Il Sung untuk menari merayakan 65 tahun peristiwa Perang Korea pada 1953.

Para pengunjung yang datang menyaksikan tarian itu kebanyakan warga asing.

"Selama beberapa bulan terakhir jumlah pengunjung asing cukup meningkat,": kata seorang petugas di kebun binatang Pyongyang. "Kebanyakan mereka warga China dan Rusia."

Korea Utara menargetkan dua juta turis asing pada 2020 mendatang. Sejumlah pengamat politik menilai target itu diperlukan untuk mengatasi turunnya nilai mata uang akibat sanksi ekonomi internasional karena program nuklir Korut.

Sebagian kalangan justru khawatir dengan meningkatnya turis asing di Korut.

"Makin banyak warga asing datang ke Korut, maka mata uang Korut akan makin baik. Ini bisa membuat dampak sanksi ekonomi internasional menjadi berkurang dan hal itu bisa membuat proses denuklirisasi di Semenanjung Korea jadi tertunda," kata seorang pengamat Korea Utara.

(mdk/pan)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP