Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Digusur dari posisi PM, Abbott salahkan polling dan media

Digusur dari posisi PM, Abbott salahkan polling dan media Mantan PM Australia Tony Abbott (kiri) dan penggantinya Malcolm Turnbull. ©2015 Merdeka.com

Merdeka.com - Mantan Perdana Menteri Australia Tony Abbott menyalahkan jajak pendapat dan pemberitaan media sebagai pemicu pelengserannya. Hal ini diungkapkan Abbott dalam pidato pengunduran dirinya di Kantor Parlemen, Ibu Kota Canberra, pagi tadi waktu setempat.

Abbott berjanji tidak akan mengganggu kepemimpinan Malcolm Turnbull yang menggantikannya. Dia akan mendukung kebijakan mantan menterinya itu. "Perubahan kepemimpinan tidak pernah mudah bagi negara kita. Janji saya untuk menerima perubahan ini dengan ikhlas. Saya tidak akan merusak, tidak akan melemahkan," kata Abbott seperti dikutip dari surat kabar the Star, Selasa (15/9).

Kendati begitu, Abbott menyinggung dua faktor yang membuat dia kehilangan posisi PM. Salah satu yang menurutnya paling merusak adalah sistem jajak pendapat. Untuk diketahui, sejak Februari lembaga polling, misalnya Ipsos, terus menunjukkan masyarakat tak lagi percaya pada Abbott.

"Sifat politik telah berubah dalam beberapa dekade terakhir. Kita melakukan jajak pendapat lebih sering dibanding masa sebelumnya. Polling-polling itu memberikan kepahitan tersendiri bahkan pembunuhan karakter. Sistem jajak pendapat sekarang menciptakan kesan yang tidak baik bagi perdana menteri," ucapnya.

Abbott juga menyalahkan media atas pemberitaan tentang dirinya selama dua tahun menjabat yang dirasa terlalu memojokkan kinerjanya.

"Jika ada satu nasehat yang bisa saya berikan kepada media, jangan mengutip orang lain yang melontarkan pernyataan untuk kepentingan dirinya sendiri, karena itu akan merusak citra seseorang. Jangan berkomplot dan bertindak layaknya pisau pembunuh yang menusuk dari belakang," seru Abbott kepada media tanpa merinci lebih lanjut maksud perkataannya.

Sosok Abbott selama setengah tahun terakhir, dalam laporan banyak media, dianggap tak becus mengelola ekonomi. Negeri Kanguru menghadapi ancaman resesi pertama kalinya, selama 24 tahun, akibat perlambatan ekonomi global.

Sementara itu, pagi tadi waktu setempat, Turnbull dilantik menjadi Perdana Menteri ke-29 Australia oleh Gubernur Jenderal Peter Cosgrove. Selepas resmi menjabat, politikus 60 tahun itu berjanji akan mengubah pemerintahan jadi lebih solid. Pengamat memperkirakan akan lebih banyak kalangan profesional dan perempuan masuk kabinet baru.

"Situasi ini tidak saya perkirakan sebelumnya. Tapi saya merasa terhormat dan bersungguh-sungguh melaksanakan tugas ini," kata Turnbull.

Turnbull sejak Februari lalu sudah prediksi akan menyingkirkan Abbott di internal Partai Liberal. Pada Agustus lalu, survei Ipsos menunjukkan tingkat popularitas Turnbull sudah melampaui mantan bosnya di kabinet itu.

Ketua Fraksi Partai Liberal di parlemen, Scott Buchholz, mengatakan Turnbull mengungguli perolehan suara Abbott dengan 54 suara berbanding 44 dalam pemilihan sela kemarin malam. Untuk diketahui, Partai Liberal merupakan mayoritas parlemen Negeri Kanguru hingga 2017 nanti. Siapapun menjadi ketua partai otomatis menjadi perdana menteri.

(mdk/ard)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP