Denmark ingin pelajari cara Indonesia kelola medsos selama pemilu
Merdeka.com - Perbincangan di media sosial telah menjadi indikator baru praktik demokrasi di sebuah negara. Keterbukaan setiap individu dalam membuat isu dan komentar politik di Facebook atau Twitter, mulai mempengaruhi calon pemilih.
Dalam seminar "Dialog Demokrasi dalam 140 Karakter" yang diselenggarakan Dewan Pers dan Indonesia Indicator dengan dukungan Kedutaan Besar Denmark, ditegaskan bahwa media sosial adalah "mimbar" bagi setiap individu dalam mengekspresikan pendapatnya.
Dalam sambutannya, Duta Besar Denmark untuk Indonesia, Casper Klynge, menekankan bila transparansi dan dialog demokratis adalah fokus penting dalam mewadahi aspirasi politik per orangan.
"Twitter dan Facebook telah mengubah secara fundamental dialog demokratik. Indonesia bukan hanya sebagai negara demokrasi terbesar di dunia, namun juga negara dengan pengguna terbesar media sosial," ucap Casper di Hotel Sari Pan Pacific, Jakarta, Selasa, (16/6).
Casper juga menambahkan bila ke depan warga Denmark bisa lebih belajar menggunakan media sosial sebagai platform demokrasi seperti yang dialami masyarakat Indonesia tahun lalu. Kebetulan, pemilu di negara nordik tersebut akan terselenggarakan pada 18 Juni mendatang.
"Saya rasa, kami (Denmark) dapat belajar banyak dari pengalaman Indonesia untuk memahami bagaimana media sosial (twitter dan facebook) meningkatkan diskusi politik dan demokrasi di abad 21," imbuh Casper. (mdk/ard)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya