Delegasi pakar bencana Indonesia melawat ke Israel
Merdeka.com - Enam warga Indonesia yang memiliki latar belakang keahlian penanganan bencana melawat ke Israel. Rombongan ini sempat bertandang ke Kantor Dewan Regional Eshkol, Distrik Negev, Barat Laut Israel.
Kunjungan WNI ini difasilitasi oleh Project Interchange, lembaga nirlaba Komite Yahudi Amerika Serikat (AJC). Surat kabar the Jerusalem Post, melaporkan Rabu (13/1), para pakar bencana asal Tanah Air itu mengikuti seminar enam hari sejak pekan lalu.
Dalam pertemuan dengan Ketua Dewan Regional Eshkol, Gadi Yarkoni, serta kunjungan ke Rumah Sakit Barzilai di Askhelon, rombongan Indonesia memberikan beberapa bingkisan.
Salah satu peserta rombongan adalah Iswar Abidin, konsultan manajemen bencana asal Jakarta. Dia menganggap tawaran mengunjungi negara yang tak punya hubungan diplomatik dengan Indonesia itu sebagai kesempatan menantang. "Saya sempat terkejut saat mendengar tawaran itu, tapi kemudian saya setuju berangkat," ujarnya.
WNI lain yang terlibat dalam lawatan ini adalah Trinirmala Ningrum. Dia sadar bahwa lawatan ke Israel seringkali dipandang negatif oleh banyak orang di Indonesia yang beragama Islam. Sebagian dari enam peserta kunjungan ke Israel ini adalah muslim.
"Kami mengakui berangkat ke sini rasanya sudah seperti perang," kata Ningrum.
Tak cuma kontingen Indonesia yang diundang oleh Project Interchange. Pakar bencana dari India dan Sri Lanka turut serta dalam seminar tersebut.
Adapun Victor Rembeth, pemimpin kontingen Indonesia, merupakan salah satu inisiator lawatan ini. Dua meyakini hubungan orang per orang seperti ini yang akan menjadi jembatan antara masyarakat Israel dan Indonesia.
Kunjungan delegasi Indonesia diapresiasi oleh Wakil Direktur AJC Cabang Asia-Pasifik, Nissim Reuben. Dia menganggap kehadiran para pakar kebencanaan ini adalah masa depan hubungan negara muslim dan Israel.
"Warga Indonesia yang datang ini tak memiliki pandangan antisemit yang masih dipelihara di banyak negara," ujarnya.
Secara politis, Pemerintah Indonesia tidak mengakui Israel karena dinilai menjajah sebagian wilayah Palestina. Kendati tak berhubungan langsung, produk serta teknologi Negeri Zionis itu banyak diimpor ke Tanah Air.
Di sisi lain, Israel berusaha memperbaiki hubungan dengan negara-negara muslim. Selain mendatangkan kontingen dari Indonesia, November tahun lalu Israel untuk pertama kalinya membuka konsulat di Ibu Kota Abu Dhabi, Uni Emirat Arab.
(mdk/ard)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya