Curhat warga Nepal, bantuan korban gempa tidak merata
Merdeka.com - Pemerintah Nepal membuat kebijakan bantuan satu pintu. Adapun dari temuan merdeka.com, bantuan yang sangat diperlukan warga di beberapa tempat hingga hari ke-11 usai gempa 7,8 skala Richter melanda, belum merata ke seluruh tempat.
Bahkan di beberapa distrik yang dekat dari Ibu Kota Kathmandu tak kunjung terjangkau bantuan air bersih, makanan, maupun tenda darurat. Salah satunya adalah Bakhtapur. Sebagian warga sampai memasang kertas bertuliskan "Kami ingin tahu bagaimana cara penyaluran bantuan asing!"
"Tulisan itu kami buat, karena bantuan sangat lambat kami terima," kata Gopal (45), warga Bakhtapur saat ditemui merdeka.com, Selasa (5/5).
Sejak Minggu (3/5), pemerintah Nepal mengumumkan setiap bantuan asing yang masuk disalurkan oleh Departemen Pedesaan. Lebih dari itu, tim SAR pelbagai negara dipersilakan pulang, karena harapan menyelamatkan warga yang tertimpa puing-puing makin tipis.
"Kecuali anda punya kemampuan membersihkan reruntuhan, silakan pulang ke negara anda," kata Pejabat Departemen Dalam Negeri Nepal Rameshwor Dangal kemarin.
Ditemui terpisah, Ramesh (33), warga yang aktif mengirim bantuan, menuding pemerintahnya sangat korup. Dia tidak percaya bantuan asing setara 450 juta Rupee Nepal bisa tepat sasaran.
"Pekan lalu kami menuju ke daerah Gorkha yang parah terlanda bencana. Tapi sepanjang jalan dari Kathmandu, truk kami melewati tempat yang tak kalah menyedihkan karena lambat diberi bantuan," ungkapnya.
Menurut Ramesh, yang seharusnya bisa dikirim lebih cepatoleh tim pemerintah adalah air, tenda, dan masker. "Di daerah-daerah yang paling parah hanya ada debu dan orang hidup begitu saja di jalanan."
Bicky (28), warga Kathmandu menyatakan tingkat kepercayaan masyarakat pada pemerintah sangat rendah. "Pemerintah itu sangat korup. Itu sudah rahasia umum," ujarnya.
Merujuk Indeks Korupsi Transparency International, Nepal berada di urutan 126 dari 175 negara
Ario, warga Indonesia yang menjadi biksu di Nepal mengaku khawatir melihat respon kebijakan bantuan satu pintu di Nepal. Bahkan kini logistik dari asing tetap dikenai bea masuk di bandara. "Saya enggak tahu apa alasannya."
PBB pun frustrasi, lantaran bantuan yang penting justru lamban diberikan. "Ini masalah yang masih kami alami setelah nyaris dua pekan bencana," kata Jubir Divisi Bantuan Kemanusiaan PBB Orla Fagan.
Ada 12 distrik yang paling parah mengalami kerusakan akibat gempa bulan lalu. Salah satunya Gorkha, Bakhtapur, dan Santungal. Korban tewas merujuk data kemarin mencapai 7.366 orang, sementara 14.500 orang luka-luka.
(mdk/bal)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya