Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Covid-19 di India yang Menghancurkan: Sulit Melihat Cahaya di Ujung Terowongan

Covid-19 di India yang Menghancurkan: Sulit Melihat Cahaya di Ujung Terowongan Jenazah korban Covid-19 di India antre untuk dikremasi. ©Money Sharma/AFP

Merdeka.com - Rajeshwari Devi (58) meninggal pada Minggu pertengahan April lalu setelah dua hari menunggu oksigen, ambulans, dan tempat tidur di rumah sakit untuk para pasien Covid-19.

Dia tetap menunggu dan menahan napas yang sesak, tapi ketika bantuan tiba, semua terlambat. Dia dilarikan ke UGD sebuah rumah sakit pada 16 April setelah tingkat saturasi oksigennya turun. Hasil CT scan menunjukkan dia mengalami pneumonia parah.

Tetapi tanpa laporan Covid-nya, rumah sakit menolak untuk menerimanya. Dia menghabiskan sekitar 36 jam di UGD dengan bantuan oksigen di distrik Robertsganj, India utara. Pegawai di sana menyampaikan kepada keluarganya mereka kehabisan oksigen dan dia perlu dipindah ke rumah sakit yang lebih besar tapi tidak ada ambulans dan kepastian adanya tempat tidur rumah sakit.

Keluarga yang putus asa itu kemudian membawanya ke dalam mobil menuju sebuah rumah sakit yang masih tersedia tempat tidur setelah dibantu seorang politikus. Di mobil, dia tidak dibantu oksigen. Dia akhirnya meninggal beberapa menit sebelum sampai di rumah sakit.

Ashish Agrahari, putranya, mengatakan ibunya "akan memiliki kesempatan untuk bertahan hidup jika pengobatan diberikan tepat waktu".

Kisah memilukan seperti ini datang dari seluruh India saat gelombang Covid kedua mendatangkan malapetaka. Data menunjukkan, gelombang ini terbukti lebih menular dan mematikan di beberapa negara bagian, meskipun tingkat kematian akibat virus di India masih relatif rendah.

Tapi sistem perawatan kesehatan di daerah runtuh di tengah lonjakan kasus - dokter mengatakan sulit bagi mereka untuk "melihat cahaya di ujung terowongan kali ini".

Lonjakan tajam kasus infeksi

kasus infeksi rev1Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.com

Di gelombang kedua ini, jumlah kasus infeksi melonjak tajam.

Pada 18 Juni tahun lalu, India mencatat 11.000 kasus dan pada 60 hari selanjutnya, bertambah rata-rata 35.000 setiap hari.

Pada 10 Februari, awal gelombang kedua, India mengonfirmasi 11.000 kasus – dan 50 hari ke depan, rata-rata kasus harian sekitar 22.000. Tapi 10 hari selanjutnya, kasus melonjak dengan tajam dengan rata-rata harian mencapai 89.800.

Para ahli mengatakan, peningkatan cepat ini menunjukkan gelombang kedua menyebar jauh lebih cepat di seluruh negeri. Dr A Fathahudeen, yang menjadi bagian gugus tugas Covid negara bagian Kerala, mengatakan kenaikan itu tidak sepenuhnya tidak terduga mengingat India lengah ketika infeksi harian pada Januari turun menjadi kurang dari 20.000 dari puncak lonjakan kasus pada September yang mencapai 90.000.

Acara keagamaan besar, pembukaan kembali tempat-tempat publik, dan kampanye pemilu lokal disalahkan atas lonjakan ini.

Dr Fathahudeen mengatakan ada tanda-tanda peringatan pada Februari, tapi “kami tidak bertindak bersama-sama”.

“Saya sampaikan di bulan Februari bahwa Covid belum hilang dan tsunami akan menghantam kita jika tindakan mendesak tidak dilakukan. Sayangnya, tsunami memang menghantam kita sekarang,” ujarnya, dikutip dari BBC, Rabu (28/4).

“Rasa normal yang palsu merayap masuk dan semua orang, termasuk masyarakat dan pejabat, tidak mengambil tindakan untuk menghentikan gelombang kedua.”

Rumah sakit kolaps

kolaps rev1Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.com

Banyak kota-kota di India melaporkan kekurangan tempat tidur rumah sakit. Teriakan minta tolong berhamburan di platform media sosial. Laporan menyedihkan banyaknya orang sekarat tanpa langsung mendapat perawatan datang dari seluruh penjuru negeri.

Beberapa pemerintah negara bagian mengatakan mereka membangun fasilitas baru tapi para ahli mengatakan akan sulit untuk mengikuti laju peningkatan jumlah infeksi.

Kota yang paling terdampak seperti Delhi, Mumbai, dan Ahmedabad hampir kehabisan tempat tidur rumah sakit.

Situasinya tidak jauh berbeda di kota-kota lain seperti Lucknow, Bhopal, Kolkata, Allahabad, dan Surat. Pakar kesehatan masyarakat, Anant Bhan mengatakan pemerintah tidak menggunakan masa-masa turunnya angka kasus untuk meningkatkan fasilitas.

“Kita tidak mengambil pelajaran apa pun dari gelombang pertama. Kita ada laporan beberapa kota kehabisan tempat tidur rumah sakit bahkan saat gelombang pertama dan itu seharusnya jadi alasan yang cukup baik untuk bersiap untuk gelombang kedua,” jelasnya.

Bhan menambahkan, nampaknya terjadi minim koordinasi antara negara bagian dan pemerintah federal terkait pasokan oksigen dan obat-obatan. Menurutnya harus ada konsolidasi antara pemerintah dan sumber daya harus dibagi antara negara bagian.

Situasi makin genting berkaitan dengan tempat tidur ICU. Beberapa kota hanya tersisa belasan tempat tidur ICU dan mereka berusaha membangun fasilitas tambahan di hotel-hotel dan GOR.

Mendapatkan tempat tidur ICU dengan cepat juga tidaklah mudah. Dr Fathahudeen mengatakan menambah tempat tidur saja tidak cukup.

“Kita perlu memastikan bahwa sebagian besar tempat tidur ini memiliki fasilitas oksigen. Kita membutuhkan lebih banyak dokter dan perawat untuk menangani tempat tidur tambahan di ICU,” jelasnya.

Ia mengatakan akan menjadi "tugas yang berat" bagi pemerintah untuk menjalankan fasilitas seperti itu dan memastikan kualitas perawatan yang baik dalam waktu singkat.

Kematian tak dilaporkan

dilaporkan rev1Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.com

Pada Rabu (28/4), tercatat 360.960 kasus baru, kasus infeksi harian tertinggi di dunia, sehingga secara keseluruhan jumlahnya hampir 18 juta kasus.

Sementara itu, angka kematian harian yang tercatat pada Rabu sebanyak 3.293, menjadi hari paling mematikan, sehingga keseluruhan kasus kematian sebanyak 201.187.

Krematorium beroperasi pagi dan malam di beberapa kota, dan orang-orang harus menunggu berjam-jam sampai jasad keluarganya dikremasi atau dibakar.

Menurut para pakar, hal ini menunjukkan angka kematian sebenarnya bisa jauh lebih tinggi.

Sanjeev Gupta, seorang jurnalis foto yang tinggal di pusat kota Bhopal, India, tiba di salah satu krematorium kota. Bhopal hanya melaporkan empat kematian terkait Covid pada hari itu.

Tapi Gupta terkejut melihat puluhan pembakaran kayu di pemakaman. Selain itu, beberapa jenazah berbaris untuk dikremasi di tungku listrik. Gupta mengatakan dia tersentuh ketika seorang pemuda memintanya untuk memotret asap yang keluar dari cerobong asap krematorium listrik.

“Dia bilang asap itu mewakili ibunya. Itu hal paling memilukan yang pernah saya dengar.”

Jurnalis foto lain di Lucknow, yang merupakan ibu kota negara bagian Uttar Pradesh, mengatakan kepada BBC, dia menghitung hampir 100 pembakaran di salah satu krematorium kota di kota itu pada 14 April. Data kematian resmi untuk seluruh negara bagian pada hari itu adalah 85.

“Langit berubah jingga di dekat krematorium. Saya masih merinding memikirkannya. Kami pasti tidak mendapatkan data kematian yang benar dari pemerintah,” jelasnya.

Jurnalis foto lain yang diwawancarai BBC di kota Varanasi di negara bagian Uttar Pradesh juga menyinggung angka kematian yang tidak dilaporkan ini.

Para ahli mengatakan ada beberapa alasan untuk ini. Salah satunya adalah banyak orang yang meninggal di rumah karena tidak mendapatkan tempat tidur rumah sakit atau tidak dites Covid-19. Jadi, mereka tidak tercatat sebagai pasien Covid di basis data yang dikelola pemerintah negara bagian.

Bhan mengatakan fasilitas tes masih buruk di kota-kota kecil dan bahkan di beberapa kota dan "mungkin saja kita gagal mencatat banyak kematian di wilayah-wilayah ini.”

Dia menduga ada masalah dengan pencatatan kematian Covid di beberapa negara bagian. Ada laporan tentang pengawasan administratif juga, tetapi pejabat membantah tuduhan itu.

“Kita membutuhkan lebih banyak transparansi dalam jumlah karena membantu dalam mengelola situasi dan juga dengan jelas memberi tahu Anda seberapa parah situasinya,” jelasnya.

Varian baru virus

virus rev1Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.com

Pada 25 Maret, India mengumumkan varian baru virus corona telah terdeteksi dari sampel yang dikumpulkan dari berbagai negara bagian.

Ahli virologi, Shahid Jameel menjelaskan "mutasi ganda di area utama protein lonjakan virus dapat membuat virus lebih menular dan memungkinkannya lolos dari sistem kekebalan".

Menurutnya perubahan virus adalah satu-satunya "penjelasan logis" di balik lonjakan itu. Pejabat kesehatan di Inggris sekarang sedang menyelidiki apakah mutan ganda menyebar lebih mudah dan kebal terhadap vaksin.

Saat ini masih belum ada cukup bukti untuk menentukan hubungan sebab akibat dengan gelombang kedua yang mematikan di India, dan varian tersebut saat ini tidak terdaftar oleh Public Health England sebagai "varian yang mengkhawatirkan" - istilah yang digunakan untuk menggambarkan varian Inggris, Brasil, dan Afrika Selatan.

Dr Jameel menambahkan, India mulai melihat mutasi "cukup terlambat".

“Pada Desember, India telah melakukan pengurutan genom hanya 5.000 sampel. Itu bukan upaya terkonsentrasi,” ujarnya.

Pada Januari, India mengumpulkan sekelompok laboratorium untuk mempercepat pengurutan dan laboratorium ini mulai berfungsi pada Februari.

“Tapi sayangnya, gelombang kedua dimulai dan visi pengurutan kira-kira 5 persen dari total sampel tidak berhasil.”

Pengurutan menjadi penting dalam pandemi karena memungkinkan ilmuwan memantau perubahan virus.

“Jika Anda dapat menangkap varian yang lebih menular sejak dini di suatu wilayah, Anda dapat segera melakukan tindakan kesehatan masyarakat untuk menghentikan penyebaran yang lebih luas di masyarakat,” jelasnya.

Tapi "tidak ada kata terlambat" untuk bertindak.

“Kami perlu memperkuat protokol keamanan dan memvaksinasi orang dengan cepat, dan juga mengawasi mutasi. Jika kami melakukan semua ini, kami dapat mengurangi jumlahnya secara signifikan.”

(mdk/pan)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP