China peringati Trump: Taiwan bukan untuk dinegosiasikan
Merdeka.com - Tindakan Presiden terpilih Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang langsung menghubungi Presiden Taiwan Tsai Ing-wen begitu memenangi Pilpres menuai kecaman dari China. Beberapa bulan setelah Pemilu selesai, Trump kembali mengeluarkan pernyataan yang menyinggung Negeri Tirai Bambu itu.
Dalam sebuah wawancara dengan Wall Street Journal, Trump mengaku memiliki banyak opsi untuk membentuk ulang hubungan negaranya dengan China. Satu di antaranya adalah persoalan kebijakan 'Satu China'.
"Semuanya dalam negosiasi, termasuk 'Satu China'," ujar Trump, demikian dilansir The Guardian, Minggu (15/1).
Sejak 1969-an, AS memperbaiki hubungannya yang sempat renggang dengan China setelah negeri itu terlibat perang dengan Soviet. Saat itu pula, AS memutuskan untuk tidak mengganggu klaim China terhadap Taiwan, negara pulau yang memilih lepas dari kekuasaan komunis.
Kementerian Luar Negeri China memastikan tidak akan memasukkan Taiwan dalam meningkatkan hubungan negeri itu dengan AS. Jika dipaksakan, mereka memastikan tidak akan memberikan hasil apapun.
"Satu China adalah prinsip, yang mana merupakan pondasi politik bagi hubungan China-AS, itu tidak dinegosiasikan,' ujar Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Lu Kang.
Lu memperingatkan Trump, yang segera menduduki kursi kepresidenan AS, untuk menghindari gangguan hubungan dengan China adalah memahami 'sensitivitas tinggi' untuk mempertanyakan Taiwan dan menjadikan isu itu dengan 'hati-hati serta menghormati'.
China sempat beraksi keras ketika calon Menteri Luar Negeri pilihan Trump, Rex Tillerson menyebut klaim China atas Taiwan sama halnya dengan invasi Rusia terhadap Krimea. China membalasnya dengan ancaman perang jika pemerintahan Trump tetap memainkan isu itu.
"Tillerson lebih baik mempelajari strategi tenaga nuklir jika dia ingin menarik tenaga nuklir besar dari wilayah mereka," tulis Global Times, tabloid yang dikontrol partai komunis China.
Sebelum pemilihan pada 8 November lalu, pengamat di China beranggapan Beijing kemungkinan akan berhubungan baik dengan pemerintahan Trump. Namun, beberapa hari setelah pemilihan itu, Trump justru menghubungi Ing-wen melalui hubungan telepon selama 10 menit.
China berang terhadap sikap tersebut, apalagi AS sudah memutus hubungan dengan Taiwan sejak 1979. Sikap keras Beijing terus terjadi ketika miliuner ini terus mengritik China lewat wawancaranya dengan televisi serta cuitannya di Twitter.
Beberapa isu yang dimainkan Trump antara lain soal Korea Utara, Laut China Selatan dan dugaan manipulasi nilai mata uang Yuan atas Dolar AS. Keputusan Trump mengangkat pebisnis Peter Navarro sebagai penasehatnya juga membuat hubungannya dengan Beijing merosot tajam.
(mdk/tyo)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya