China kampanye larangan muslimah berjilbab
Merdeka.com - Seorang pegawai pemerintah China di Kota Kashgar menyetop dua muslimah yang sedang berjalan untuk mengambil data mereka di bawah sorotan kamera pengintai. Dua muslimah itu dinyatakan bersalah karena memakai jilbab.
Di wilayah Xinjiang, tempat etnis Uighur yang mayoritas muslim, pemerintah China kini tengah menjalankan program untuk meningkatkan keamanan dengan mengkampanyekan larangan berjilbab, seperti dilansir situs asiaone.com, Senin (25/11).
Namun sejumlah kalangan mengkritik program itu karena bisa memicu serangan balasan.
"Kami harus memegang teguh tradisi kami dan mereka harus pahami itu," kata seorang muslimah berusia 25 tahun yang sudah didata dua kali.
Bukan itu saja, para muslimah berjilbab juga, kata dia, dipaksa menonton film tentang indahnya hidup tanpa jilbab.
"Film itu tidak banyak mengubah pikiran kami," lanjut dia.
Xinjiang merupakan wilayah berbatasan dengan Pakistan dan Asia Tengah, China Bagian barat. Warga di sana sudah memeluk Islam selama ratusan tahun.
Selama bertahun-tahun warga Uighur terus memprotes dan melawan penindasan pemerintah China yang menuding mereka sebagai kelompok ekstremis, teroris, dan separatis.
Peristiwa penyerangan di Lapangan Tiananmen, Ibu Kota Beijing, bulan lalu, membuat pemerintah mewaspadai potensi serangan-serangan berikutnya. Pemerintah menuding warga Uighur di balik serangan itu.
"Menurut pemerintah China, warga muslim ekstremis ingin memerdekakan diri dan itu merupakan bentuk separatisme. Karena itulah pemerintah membatasi kegiatan beragama warga Uighur," kata Shan Wei, ahli ilmu politik dari Universitas Nasional Singapura.
(mdk/fas)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya