Bertaruh nyawa kabarkan soal Rohingya
Merdeka.com - Min Min (28) namanya. Dia merupakan satu dari sekian banyak pewarta muda di Myanmar. Namun, dia kerap berada dalam posisi berlawanan dengan sejawatnya.
Sambil bercengkrama di sebuah kafe di Ibu Kota Yangon, Min Min menyatakan dia sadar akan risiko dari profesinya. Dia harus membeberkan kenyataan sepahit apapun, termasuk soal keadaan sebenarnya tentang etnis Rohingya.
Tidak mudah buat Min Min mewujudkan idealismenya. Majalahnya, Rakhine Investigative Agency, hampir saja dibredel kalau-kalau dia tidak mengikuti kemauan pemerintah. Atau mungkin nyawanya bisa melayang.
"Kalau saya tetap nekat mau melakukan investigasi buat mengungkap apa yang sebenarnya terjadi di Rakhine, nyawa saya bisa terancam," kata Min Min, seperti dilansir dari laman Al Jazeera, Rabu (17/10).
Min Min pun terpaksa mengurangi laporan dan artikel soal etnis Rohingya. Daripada runyam di kemudian hari, dia pun harus putar otak supaya majalah bulanan garapannya bisa terus terbit, dan dapurnya serta para pegawainya selalu bisa mengepul.
"Kami harus tiarap. Bahkan masalah itu kini hampir tidak pernah kami liput karena kami harus berhati-hati," ucap Min Min.
Pemerintah Myanmar yang dikuasai rezim militer masih bersikap represif terhadap media massa. Meski semilir angin perubahan mulai terasa, tetapi hal itu belum cukup kuat. Didapuknya pimpinan Partai Liga Nasional Demokrasi sekaligus pejuang hak asasi manusia dan demokrasi, Aung San Suu Kyi, sebagai Menteri Luar Negeri dan Penasihat Negara Myanmar tak mampu juga menghentikan persekusi terhadap etnis Rohingya. Karena sikap pemerintah yang sangat keras dan selalu menutupi fakta sebenarnya, Min Min semakin khawatir akan masa depan bangsa dan majalahnya.
Bulan ini saja dua dari enam anak buahnya memilih mundur. Sebab, dia melarang mereka menggunakan istilah 'teroris Bengali' buat menyebut etnis Rohingya. Terus terang dia pusing kalau hal itu terus terjadi maka usaha dia sebagai jurnalis investigasi semakin sulit.
Bukan cuma Min-Min merasakan tekanan pemerintah Myanmar terhadap media massa. Sejumlah jurnalis lain juga mengalami hal serupa ketika menulis soal Rohingya. Mereka dicemooh hingga diancam bakal dibunuh. Para pewarta tak leluasa menulis berita karena sensor yang sangat ketat dari pemerintah.
"Waktu menulis berita sebelum ditayangkan itu rasanya seperti terkungkung sekali. Kita jadi khawatir dengan tanggapan masyarakat atas berita yang kita tulis. Ini sangat mengganggu kerja kami sebagai jurnalis," ujar reporter yang identitasnya minta dirahasiakan.
(mdk/ary)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya