Berbohong demi berita
Merdeka.com - Wartawan sejatinya menuliskan fakta di balik sebuah cerita atau kejadian. Ketika fakta-fakta itu dilupakan dalam sebuah penulisan berita, maka hasilnya adalah kobohongan publik.
Media-media besar seperti surat kabar the New York Times juga tidak luput dari kebohongan cerita para wartawannya. Tidak tanggung-tanggung, satu dari dua wartawan the Times (sebutan bagi the New York Times) tersandung masalah merupakan peraih Pulitzer atau penghargaan tertinggi bagi wartawan cetak di Amerika Serikat.
Kasus pertama menerpa surat kabar berbasis di Kota New York, Amerika Serikat, itu adalah pemenang Pulitzer pada 1932, Walter Duranty. Lelaki asal Kota Liverpool, Inggris, ini merupakan wartawan biro the Times di Ibu Kota Moskow, Uni Soviet (sekarang Rusia).
Duranty bekerja bagi the Times selama 1922-1936. Tulisannya yang menang Pulitzer adalah soal kelaparan di Negara Bagian Ukraina, Uni Soviet.
Namun dewan Pulitzer sembilan tahun lalu meninjau lagi penghargaan buat Duranty itu. Dia dinilai sengaja mengabaikan fakta. Dewan kemudian meminta profesor sejarah dari Universitas Columbia, Amerika, Mark von Hagen, meneliti tulisan Duranty. "Tulisan Duranty sering dibuat dengan menggunakan bahasa propaganda dalam sumbernya. Itu menjadi hal serius dari ketidakseimbangan pada tulisannya," ucapnya, seperti dilansir surat kabar USA Today, Oktober 2003. Meski begitu, hadiah Pulitzer Duranty tidak dicabut.
Skandal paling memalukan menimpa Jason Blair, juga wartawan the Times. Pria kelahiran 1976 ini terbukti menjiplak dan membuat berita palsu.
Pada 28 April 2003 redaktur nasional the Times, Jim Roberts, menanyakan kepada Blair soal kesamaan berita yang dia tulis dua hari sebelumnya dengan artikel bikinan wartawan San Antonio Express, Macarena Hernandez, terbit lebih dulu. Hernandez pernah magang di the Times dan bekerja bareng Blair. Editor senior San Antonio Express juga menghubungi the Times, menanyakan kasus serupa. Setelah diselidiki, Blair ternyata menjiplak dan berbohong.
The New York Times hari ini berusia 161 tahun. Dengan raihan 108 Pulitzer, kasus Duranty dan Blair seolah menjadi tamparan bagi surat kabar berhaluan Demokrat ini. (mdk/fas)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya