Beradu cepat sampai puncak Everest
Merdeka.com - Pada April hingga Mei biasanya adalah musim paling dinanti di Gunung Everest. Sebab saat itu, kondisi cuaca mendukung buat membantu para pendaki meraih mimpi berdiri di 'Atap Dunia' itu.
Hanya saja karena waktu yang sempit, masa-masa itu pula membikin proses pendakian sangat kritis dan berbahaya. Rombongan pendaki dan pemandu (sherpa) pasti menumpuk di kamp utama. Belum lagi antrean pendaki hendak naik atau turun di jalur. Semua berkejaran dengan waktu demi memenuhi ambisi.
Tidak demikian bagi Brooks Entwistle. Dia adalah mantan petinggi perusahaan ternama, Goldman-Sachs, yang kini memilih bermukim di Singapura. Meski juga berniat kembali mendaki Everest, tetapi dia masih bisa mempersiapkan acara ulang tahun bagi anaknya, bahkan mengatur acara kantornya.
Hanya pada malam hari, dia menjalani pelatihan aklimatisasi dengan cara tidur di dalam tenda khusus rendah oksigen. Tujuannya melatih dia supaya terbiasa di kondisi gunung tinggi dan dingin serta minim oksigen.
Brooks melakukan itu dengan tujuan memangkas waktu pendakian. Namun, pandangan terbelah dua. Ada yang menganggap pre-aklimatisasi seperti itu sebagai langkah modern dalam dunia pendakian. Sebagian lagi merasa hal itu 'kurang jantan', karena tidak menempa fisik dan mental para pendaki langsung di atas gunung.
Meski begitu, hal ini adalah terobosan baru dan celah bisnis bagi pelaku jasa pemandu pendakian. Sebab, mereka bisa memangkas waktu dalam menempuh perjalanan ke puncak Everest hingga setengahnya.
Dengan cara biasa, pada pendaki bisa menghabiskan waktu 65 hari atau lebih, di luar perjalanan menuju dan kembali dari Nepal atau China, buat mendaki Gunung Everest. Hampir setengahnya dihabiskan buat proses aklimatisasi, yakni beradaptasi dengan ketinggian, cuaca, dan kadar oksigen rendah. Mereka akan berjalan bertahap mulai dari kamp utama hingga pos persinggahan IV yang terakhir dan menetap beberapa saat, kemudian kembali turun. Jika tidak dilakukan, maka pendaki bakal mengalami gangguan di ketinggian, yakni pecahnya pembuluh darah di paru-paru hingga menyebabkan batuk berdarah (High Altitude Pulmonary Edema/HAPE), atau kehilangan kesadaran karena sel otak rusak lantaran kekurangan pasokan oksigen (High Altitude Cerebral Edema/HACE).
Tidak sembarang orang bisa melakukan proses pre-aklimatisasi. Sebab, mereka mesti merogoh kocek lumayan. Harga ditetapkan berkisar hingga USD 85 ribu, atau setara lebih dari Rp 1,1 miliar. Itu di luar ongkos perjalanan, akomodasi, logistik, hingga jasa sherpa. Namun buat orang seperti Brooks mungkin tidak terlalu dipusingkan dengan urusan duit. Dan buat sebagian operator pendakian, hal ini adalah bisnis yang bagus.
Adrian Ballinger adalah salah satu penyedia jasa pre-aklimatisasi. Menurut pemilik jasa pemanduan pendakian Alpenglow Expeditions itu, proses seperti itu justru membantu para pendaki. Yakni memangkas waktu berada di gunung tinggi dengan risiko terkena frostbite (jaringan tubuh rusak karena cuaca dingin), kecelakaan, dan penurunan berat tubuh ekstrem sebagai dampak dari pendakian gunung tinggi. Dia mengaku sudah melakukan uji coba itu sejak 2011. Namun baru dua tahun kemudian memberangkatkan kliennya. Lantas tahun lalu dia berhasil membawa empat klien mendaki puncak Everest, setelah sebelumnya melakukan pre-aklimatisasi.
"Mereka sebenarnya jadi lebih sehat ketika mendaki karena tidak terlalu lama berada di gunung," kata Adrian, seperti dilansir dari laman www.emirates247.com, Kamis (11/5).
Tiga tahun lalu, Brooks pernah mencoba cara lama buat mendaki Everest. Selama April dia habiskan naik turun Everest buat aklimatisasi. Kemudian pada pertengahan Mei mencoba mencapai puncak. Namun rencananya buyar lantaran terjadi longsor salju mengakibatkan 16 sherpa tewas. Saat itu juga musim pendakian ditutup.
Sebagai eksekutif di perusahaan dan segudang pekerjaan, Brooks tidak memiliki waktu banyak seperti itu lagi. Maka dari itu, proses pre-aklimatisasi menjadi pilihan utama buat memangkas waktu pendakian.
"Saya enggak punya banyak waktu lagi seperti itu. Buat saya mustahil pergi ke atas sana (Everest) tanpa metode ini," kata Brooks.
Cara ditawarkan ada beberapa. Yakni olah kebugaran tubuh dengan sepeda statis, lari, tinju sambil menggendong ransel, hingga tidur di dalam tenda khusus.

Tenda itu disebut ruang hypoxic. Fungsinya buat membentuk kapasitas paru-paru. Caranya adalah nantinya nitrogen akan dialirkan dalam tenda kedap guna menciptakan kondisi mirip di ketinggian. Kemudian kadar oksigen akan dikurangi bertahap sampai tubuh bisa beradaptasi.
Kendati demikian, lolos pre-aklimatisasi bukan satu-satunya jalan bisa mendaki Everest. Adrian mensyaratkan para kliennya yang ingin mengambil paket pendakian kilat terlebih dulu menjelajah satu dari 14 gunung dengan ketinggian lebih dari 8000 meter.

Kabarnya, tahun depan perusahaan ekspedisi Austria, Furtenbach Adventure, akan membawa klien dengan target mendaki Everest dalam waktu kurang dari empat pekan. Mereka akan melakukan metode sama dan menambah pasokan oksigen.
Kendati demikian, tidak semua pihak melihat itu sebagai terobosan. Pemandu ekspedisi kawakan, Simon Lowe, sangat menentang cara itu. Dia lebih meyakini cara lawas, yakni kombinasi mantra dan metode mendaki cepat dan mengurangi tidur.
Menurut Lowe, pendakian kilat hanya bertumpu pada pasokan oksigen tambahan. Hal itu justru membawa masalah baru. Sebab, sherpa harus berkali-kali mendaki buat menempatkan tabung oksigen bagi para pendaki saat naik. Kemudian jumlah tabung-tabung kosong ditinggalkan justru bertambah dan berserakan di gunung.
"Kalau ini terus diterapkan, maka akan jadi bencana. Mereka juga tidak akan mendapatkan respons yang seharusnya terhadap Everest dan cuacanya, dan hanya membahayakan semuanya," kata Lowe.
Di sisi lain, ada juga yang mendukung pre-aklimatisasi. Seorang pendaki tersohor Amerika Serikat, Kent Stewart, menyatakan akan mencoba metode itu, sebelum mendaki Everest buat menuntaskan catatanya menaklukkan tujuh puncak tertinggi dunia. Stewart pernah mengalami berat tubuhnya menyusut drastis saat bertualang. Kini dia melihat cara baru ini lebih aman.
"Kamu bisa makan dan minum di rumah, dan tidak berhadapan dengan bahaya yang ada di gunung," kata Kent.
Semua cara itu dilakukan manusia buat memenuhi impiannya. Mendaki sebagai salah satu kegiatan penuh makna dan keterampilan bisa membikin orang menyadari siapa dirinya ketika berjalan menuju puncak. Apalagi setelah Sir Edmund Percival Hillary bersama Tenzing Norgay menjadi yang pertama menjejak di Sagarmatha. Mereka menumbuhkan harapan siapapun bisa berada di sana. Bukan sekedar perkara menundukkan gunung, tetapi bagaimana menaklukkan diri sendiri. Karena walau tubuhmu tidak dirancang untuk itu, tetapi jiwamu bisa melampauinya. (mdk/ary)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya