Bayangan kegagalan referendum Mesir
Merdeka.com - Mesir mulai menghadapi babak baru demi mengatasi krisis politik di negara mereka. Pemungutan suara demi menetapkan konstitusi baru pun digelar. Namun seolah bisa terbaca, kegiatan itu berlangsung penuh konflik. Referendum gagal.
Entah militer terlalu percaya diri atau pemerintah memang kurang persiapan, banyak warga heran mengapa referendum diadakan di tengah situasi belum tenang. Bentrokan masih terjadi di sana sini bahkan di hari pertama pemungutan suara konflik menyebabkan lima orang tewas, seperti dilansir surat kabar Al-Ahram (14/1).
Satu yang tewas yakni pendukung presiden terguling Muhammad Mursi dan lainnya pasukan keamanan di Kota Nasser. Pendukung Mursi itu mencoba merangsek ke sebuah tempat pemungutan suara (TPS).
Bentrokan juga terjadi di kawasan Nahya, Kota Giza. Seorang pendukung Mursi bernama Hassa E;-Aqabawy tewas. Laporan itu dibenarkan kementerian dalam negeri. Di wilayah kegubernuran Sohag, di Mesir bagian utara tiga orang juga dilaporkan meninggal dalam bentrokan dengan petugas keamanan. Tiga orang itu merupakan pendukung Ikhwanul Muslimin.
Konflik memang terbaca lantaran pemungutan suara demi konstitusi baru yang diyakini sejumlah pengamat bakal semakin memperkuat pemerintah militer. Banyak pakar politik menilai referendum ini hanya kedok agar rakyat Mesir mendukung kemungkinan panglima militer Jenderal Abdul Fatah al-Sisi menuju kursi presiden, seperti dilansir stasiun televisi Al Arabiya (14/1).
Namun para pendukung referendum yakin konstitusi baru ini bakal memperluas peran kaum perempuan dan mereka juga diberikan kesempatan berpendapat. Di sisi lain pihak militer berharap referendum dilaksanakan dua hari ke depan bakal mengakhiri perselisihan soal kepemimpinan.
(mdk/din)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya