Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

"Bagi Mereka yang Gugur, Kami Tak Punya Pilihan Selain Harus Menang"

Foto prajurit Ukraina, Viktor Dudar bersama tumpukan bunga di atas pusaranya di kompleks pemakaman d. ©Kai Pfaffenbach/Reuters

Merdeka.com - Sebelum dia berangkat menuju garis depan pertempuran, cadangan militer Ukraina Viktor Dudar memeluk istrinya, Oksana dan berpesan agar jangan khawatir.

Dan setiap hari ketika Dudar jauh dari rumah, bertempur melawan pasukan Rusia, dia selalu menyempatkan mengirim pesan atau menelpon istrinya.

"Saya masih hidup," tulisnya suatu hari.

"Semuanya baik-baik saja," lanjutnya, seperti dikutip dari Reuters, Senin (14/3).

Lalu pada 3 Maret, sepekan setelah Rusia melancarkan invasi ke Ukraina, pesan-pesan itu terhenti. Tiga hari kemudian, ketakutan terburuk Oksana terbukti ketika seorang pendeta dan beberapa tentara tiba di depan pintunya.

"Mereka memasuki rumah dan mengatakan, 'Suami Anda adalah seorang pahlawan,'" kenang Oksana (47).

"Tidak ada kata lain lagi yang diperlukan."

Suaminya tewas dihantam serangan roket Rusia.

Viktor Dudar (44), yang sebelumnya berprofesi sebagai jurnalis, salah satu dari ratusan tentara Ukraina yang tewas sejak Rusia menyerang negara itu pada 24 Februari.

Ukraina mengatakan pasukannya telah membunuh lebih dari 12.000 pasukan Rusia. Rusia mengonfirmasi hanya sekitar 500 kematian. Tidak ada pihak yang mengungkapkan jumlah kematian dari pihak Ukraina.

Dalam pidato televisinya, Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskiy memberikan gelar "Pahlawan Ukraina" kepada oara tentara yang tewas dalam perang ini. Pada Kamis saja, Zelenskiy membacakan 13 nama penerima gelar tersebut.

PBB memperkirakan 1.500 warga sipil terbunuh atau terluka, yang mana pejabat Ukraina memprediksi jumlah kematian yang lebih besar ketika Rusia terus mengepung dan menggempur sejumlah kota di negara itu.

Kamu di mana?

Oksana dan Viktor Dudar bertemu di kampus, ketika dia datang ke asrama Oksana untuk memindahkan beberapa furnitur. Mereka membangun rumah di Zhovkva, dekat kota Lviv, Ukraina barat, dan memiliki seorang anak perempuan, Sofia (21).

Saat ini, masih diselimuti duka, Oksana duduk dengan lencana militer dan baret Viktor di pangkuannya, mengelus lencana itu dengan jarinya yang kemerahan karena udara dingin.

Sebagai seorang jurnalis yang spesialisasinya bidang militer, Viktor saat itu yakin invasi Rusia semakin dekat, kata Oksana.

Dalam beberapa jam serangan, Viktor berkendara ke Lviv untuk mendaftarkan diri di markas besar Brigade 80. Dia pernah bertugas di brigade tersebut pada 2014, ketika Rusia mencaplok Krimea dan mulai mendukung separatis yang merebut wilayah di Ukraina timur.

Oksana kemudian mengetahu suaminya langsung menuju garis depan, ke Mykolaiv, kota pelabuhan strategis di Laut Hitam. Kawasan itu merupakan lokasi pertempuran sengit saat tentara Ukraina mengusir pasukan Rusia yang datang dari Krimea.

Di Zhovkva, daerah yang tidak pernah tersentuh pertempuran, Oksana mencona menaksir dari pesan harian dan panggilan singkat Viktor di mana dia berada dan seberapa berbahayanya dia.

Viktor tak pernah mengungkapkan lokasi tepatnya, tapi memberikan isyarat dia berada di garis depan. Satu malam, Viktor tidur di pohon. Pada satu kesempatan lainnya, warga lokal memasak makanan panas untuk unitnya.

Dia berterus terang kepada Oksana, yang juga seorang jurnalis, tentang pertarungan di depan.

"Di TV kita mendengar tentang kemenangan besar Ukraina, tentang bagaimana kami menghancurkan musuh," kata Viktor kepada istrinya.

"Tapi kelihatannya seperti saya akan berada di sini dalam waktu yang lama."

Lalu pada 3 Maret, Viktor menghilang.

"Kamu di mana?" Oksana mengirimkan pesan kepada suaminya pada sore hari.

"Apa yang terjadi padamu?"

Setelah kematiannya dikonfirmasi, barang-barang Viktor dikembalikan, hanya dompet dan isinya, tak ada yang lain - lalu jasadnya. Peti mati itu disegel. Oksana mengatakan dia tak diizinkan melihat ke dalam peti mati.

Viktor dimakamkan di Pemakaman Lychakiv, Lviv, pusaranya dipenuhi bunga. Di sebelahnya berbaring enam tentara lain di bawah gundukan bunga. Di belakang mereka ada lubang kosong, siap untuk pemakaman tentara lainnya.

Kematian Viktor telah memperkuat tekad Oksana.

"Setelah kehilangan besar, setelah duka yang dibawa ke tanah air kami, kami tidak punya pilihan kecuali untuk menang," tegasnya.

"Bagi mereka yang telah gugur, kita harus menang."

(mdk/pan)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP