Bagai neraka di kaki Eiffel
Merdeka.com - Waysira L(16) tidak bisa berbuat banyak. Dia pergi dari tanah kelahirannya di Afrika Timur, menjadi imigran, berusaha mencari suaka, kini mesti luntang-lantung di Prancis.
Sebagai warga Suku Oromo, dia hidup berdampingan dengan para pengungsi dan pencari suaka dari negeri-negeri dirundung konflik. Seperti Eritrea, Etiopia, dan Afganistan. Setelah sampai di negara tujuan, Prancis, hidup mereka tak kunjung berubah. Alhasil, Waysira dan para imigran lainnya harus menggelandang dan berlabuh di Kota Calais di pesisir utara Prancis. Sebenarnya mereka hanya sementara di sana karena tujuan utamanya adalah hendak menyeberang buat mencapai Inggris.
'Perkampungan' dihuni Waysira dan rekan-rekannya sesama imigran digusur pemerintah setempat pada Oktober tahun lalu. Tidak ada tempat bernaung lagi buat Waysira. Akibatnya, dia kini harus tidur beratap langit beralas pelataran toko. Atau jika beruntung bisa bermalam di halte, bak truk, atau kereta kosong. Namun, mereka tetap dianggap pengganggu, seperti dilansir dari laman Al Jazeera, Kamis (27/7).
"Setiap hari, polisi mengejar kami. Mereka menyemprot kami dengan gas air mata, menendang. Begini hidup kami saban hari," kata Waysira.
Janji manis Presiden Prancis, Emmanuel Macron, supaya negaranya lebih ramah terhadap kaum pendatang belum terlihat secara kasat mata. Di awal Juli saja, sudah dua ribu pengungsi dan imigran menggelandang di Paris dirazia.
Kekejian polisi Prancis dalam memperlakukan para pengungsi dan imigran dipaparkan dalam laporan lembaga Human Rights Watch (HRW). Menurut mereka, dari hasil wawancara dengan para pengungsi terungkap kalau perlakuan aparat keamanan memang kejam, dan pemerintah setempat seolah tutup mata.
Dalam laporan bertajuk 'Hidup seperti dalam neraka', disebutkan polisi dan satuan anti huru-hara kerap menyerang para pengungsi dan imigran dengan semprotan merica. Bahkan mereka juga tega mencederai anak-anak. Aparat juga menyemprotkan senjata itu ke makanan, minuman, kantung tidur, selimut, dan pakaian para imigran.
"Sangat tercela sekali ketika polisi menggunakan semprotan merica buat menyerang anak-anak dan orang dewasa ketika mereka tidur, atau saat siang hari dan tidak melakukan apapun," kata Direktur HRW Prancis, Benedicte Jeannerod.
"Ketika polisi merusak atau mengambil selimut, sepatu, atau makanan para imigran, mereka mencoreng pekerjaan mereka karena menganiaya orang-orang semestinya mereka lindungi, seperti dalam sumpah jabatannya," ujar Jeannerod.
Tuduhan itu langsung dibantah pemerintah Prancis. Menurut pejabat di di wilayah Pas-de-Calais, Fabien Sudry, sangkaan itu tidak berdasar karena tak ada bukti kuat.
"Polisi di Calais menghormati hukum, dan selalu memastikan ketertiban umum dan keamanan," kata Sudry. (mdk/ary)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya