Asosiasi cendekiawan Amerika boikot Israel
Merdeka.com - Asosiasi Pengkajian Amerika (ASA) dua hari lalu mendukung boikot terhadap universitas-universitas Israel, dan menjadi sebuah kelompok sarjanawan terbesar Amerika yang melakukan hal itu.
Sekitar sepertiga dari kelompok itu, yang terdiri dari lebih 3.800 anggota telah memberikan suara, menyetujui boikot dengan suara 66 persen. Pada April lalu, asosiasi lebih kecil yakni Asosiasi Kajian Amerika Asia, yang memiliki sekitar 800 anggota. Ini menjadi kelompok ilmiah pertama di Amerika mendukung pemboikotan akademik Israel, seperti dilansir, stasiun televisi CBS News, selasa (17/12).
"ASA mengutuk Amerika Serikat atas peran pentingnya dalam membantu dan bersekongkol dalam pelanggaran hak asasi Israel terhadap warga Palestina dan pendudukan tanah Palestina melalui penggunaan hak veto dalam Dewan Keamanan PBB," kata ASA dalam sebuah pernyataan yang menjelaskan dukungan itu.
Pemungutan suara itu, yang sebagian besar bermakna simbolis, bagaimanapun juga menjadi sebuah tanda meningkatnya momentum gerakan boikot internasional terhadap Israel atas perlakuannya terhadap Palestina.
Sementara gerakan itu, yang menekankan boikot, pembebasan, dan sanksi terhadap Israel, telah mencetak beberapa keberhasilan di Eropa dan tempat lain, dan telah memiliki pengaruh jauh lebih sedikit di Amerika Serikat, sekutu terdekat Israel paling penting.
"Alasan ini begitu signifikan bahwa ini adalah sebuah kemenangan di Amerika Serikat dalam sebuah asosiasi akademis utama dan sangat banyak didukung," ujar Noura Erakat, seorang pengacara hak asasi manusia Palestina-Amerika yang merupakan anggota Asosiasi Pengkajian Amerika.
Pejabat Israel telah mengecam kampanye itu sebagai upaya untuk tidak mengakui negara Yahudi. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Israel, Yigal Palmor, menolak berkomentar terkait pernyataan dari Asosiasi Kajian Amerika.
Kenneth Stern dari Komite Yahudi Amerika bermarkas di New York menyebut keputusan ASA itu menjijikkan. Stern mengatakan dia terganggu oleh bahasa dalam pernyataan kelompok itu dengan menyertai resolusi, membandingkan kebijakan Israel dengan apartheid dan merujuk ke proyek kolonial pendudukan Zionis.
Sebuah kelompok ilmuan, Asosiasi Profesor Universitas Amerika, mengutuk boikot itu sebagai pelanggaran kebebasan akademis.
Asosiasi Pengkajian Amerika meminta universitas Amerika dan kelompok-kelompok akademis untuk tidak bekerja dengan lembaga-lembaga Israel, dan mengatakan tindakan ini tidak melanggar kebebasan akademik, karena termasuk individu sarjana-sarjana Amerika yang bekerjasama dengan rekan-rekan Israel. "Asalkan mereka tidak terlibat dalam kemitraan formal dengan atau sponsor oleh lembaga akademis di Israel.
Di wilayah Palestina, kelompok masyarakat sipil meluncurkan kampanye boikot dan sanksi terhadap Israel pada 2005. Mereka mempunyai jaringan luas dari para pegiat, termasuk di Eropa dan Amerika Serikat.
"Ini bukan lagi hal yang tabu, seperti sebelumnya, untuk menyerukan pemboikotan," kata mantan Wakil Presiden Parlemen Eropa dan pegiat pro-Palestina, Luisa Morgantini dari Italia. "Semakin banyak orang menyadari pelanggaran hak asasi manusia, dan juga penjajahan yang Israel lakukan di tanah Palestina.'
Sementara beberapa pegiat menyerukan untuk memboikot perusahaan dan institusi Israel, sedangkan lainnya mencoba untuk menargetkan perusahaan pemukiman Israel. Hampir 600.000 warga Israel tinggal di pemukiman di Tepi Barat dan Yerusalem Timur. Pekan lalu, perusahaan air asal Belanda Vitens, pemasok terbesar air minum di Belanda, memutuskan untuk menghentikan hubungan dengan pengangkut air nasional Israel selama operasi di permukiman Tepi Barat.
Pada saat yang sama, badan perdagangan luar negeri Inggris mengeluarkan peringatan kepada perusahaan yang berinvestasi di pemukiman Israel, mengatakan ikatan masyarakat Israel yang didirikan di Tepi Barat bisa menjadi buruk bagi bisnis. (mdk/fas)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya