AS tarik bantuan untuk militer Myanmar
Merdeka.com - Amerika Serikat telah mengumumkan bahwa pihaknya menarik bantuan kepada militer pasukan Myanmar yang terlibat dengan kekerasan terhadap warga muslim Rohingya yang memicu eksodus besar-besaran dan krisis kemanusiaan di negara tersebut.
"Kami mengungkapkan keprihatinan kami yang paling serius dengan kejadian baru-baru ini di Negara Bagian Rakhine. Kekerasan traumatis itu terus dilakukan kepada kaum Rohingya dan komunitas lainnya," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri, Heather Nauert, seperti dilansir dari laman the Guardian, Selasa (24/10).
"Setiap individu atau entitas, termasuk aktor baik warga negara maupun yang bukan, dan berperan atas kekejaman ini harus bertanggung jawab," lanjutnya.
Negara tersebut memiliki batasan atas keterlibatannya dengan angkatan bersenjata Myanmar dan juga embargo yang telah berlangsung lama untuk semua penjualan perlengkapan militer, sehingga penarikan bantuan militer berfungsi untuk memperkuat posisi tersebut.
Selain itu, departemen negara juga telah menghentikan pertimbangan untuk memberi keringatan perjalanan bagi pemimpin militer senior Myanmar.
Sanksi lain yang diberikan oleh AS adalah membatalkan undangan kepada anggota senior pasukan keamanan Myanmar untuk menghadiri acara yang disponsori oleh AS dan mendesak Myanmar untuk membuka akses ke daerah-daerah terkena dampak krisis kemanusiaan.
"Pemerintah Myanmar, termasuk angkatan bersenjata, harus segera mengambil tindakan untuk memastikan perdamaian dan keamanan. Kami ingin menerapkan komitmen untuk memastikan akses kemanusiaan kepada masyarakat yang sangat membutuhkan bantuan, memfasilitasi kembalinya mereka dengan aman, dan mengatasi akar penyebab diskriminasi sistematis terhadap Rohingya," pungkas Nauert.
(mdk/ary)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya