AS sebut serangan bertubi-tubi Rusia di Suriah tindakan barbar
Merdeka.com - Amerika Serikat, melalui Duta Besar AS untuk PBB, Samantha Power, menyalahkan Rusia atas serangan bertubi-tubi yang melanda Aleppo setelah gencatan senjata berakhir. Power menyebutkan, yang dilakukan Rusia untuk mendukung Suriah bukan tindakan melawan terorisme, namun barbarisme.
Dewan Keamanan PBB melakukan rapat kemarin, atas permintaan Amerika Serikat, Inggris dan Prancis, untuk membahas mengenai eskalasi pertempuran di Aleppo setelah pengumuman pada Kamis lalu oleh tentara Suriah untuk merebut kembali kota tersebut, seperti dilaporkan Al Arabiya, Senin (26/9).
"Rusia mendukung dan tidak melakukan tindakan melawan terorisme, hal itu adalah tindakan barbarisme," ujar Power di hadapan 15 anggota dewan.
"Bukannya mengejar perdamaian, Rusia dan Assad malah membuat perang. Alih-alih membantu untuk menyelamatkan kehidupan warga sipil, Rusia dan Assad membom bantuan kemanusiaan, rumah sakit dan para relawan yang berusaha mati-matian menjaga orang-orang tetap hidup," lanjut perempuan itu.
Pada 9 September lalu, kesepakatan gencatan senjata antara Menteri Luar Negeri AS John Kerry dan Menlu Rusia Sergei Lavrov terjadi. Kesepakatan itu ditujukan untuk proses perdamaian Suriah kembali ke jalur efektif.
Sayangnya, setelah beberapa pekan gencatan senjata terjadi, sebuah konvoi bantuan kemanusiaan dari PBB dibom. Rusia dituduh sebagai pelakunya.
Sementara itu, Duta Besar Inggris, Matthew Rycroft menyebutkan kesepakatan AS dan Rusia sebenarnya sudah sangat dekat pada proses perdamaian. Sayangnya kesepakatan itu berakhir dan malah membawa 'neraka baru' di Suriah.
"Rezim Bashar al-Assad dan Rusia bukannya menciptakan kehidupan baru, malah menambah neraka di Aleppo," tuturnya.
"Rusia bermitra dengan rezim Suriah untuk melakukan kejahatan perang," sambungnya, hal ini ditambah oleh Menlu Inggris, Boris Johnson.
Dubes Suriah untuk PBB Bashar Jaafari mengatakan pada DK PBB, pemerintahnya berencana merebut kembali semua kawasan yang diambil oleh pemberontak, termasuk Kota Aleppo.
Sekretaris Jenderal PBB, Ban Ki-moon juga menegaskan, serangan udara pemerintah Suriah di daerah pada penduduk merupakan sebuah kejahatan perang.
Militer Suriah menyatakan gencatan senjata berakhir pada 19 September lalu. Hal ini terjadi usai serangan udara dari pesawat tempur koalisi pimpinan AS terhadap pos militer Suriah menewaskan puluhan tentara.
Militer AS sendiri membantah dan menyebut serangan tersebut 'tidak disengaja'. Mereka juga menyampaikan permintaan maaf ke Suriah melalui Rusia. AS beralasan, serangan kala itu sebenarnya ditujukan kepada kelompok militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).
Tak lama setelah gencatan senjata berakhir, sebuah konvoi bantuan grup relawan Bulan Sabit Merah Suriah dan PBB terkena serangan udara, yang menewaskan sekitar 20 orang. Para pejabat AS menyalahkan Rusia atas serangan itu, namun langsung dibantah keras oleh Moskow. (mdk/ard)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya