AS Sebut Perundingan Pertama dengan Taliban di Doha Jujur dan Profesional
Merdeka.com - Amerika Serikat (AS) menyampaikan pada Minggu, pertemuan tatap muka pertama antara pejabat senior AS dan pejabat Taliban sejak kelompok garis keras itu mengambil alih kekuasaan di Afghanistan berlangsung jujur dan profesional.
Pihak AS juga menegaskan kembali bahwa Taliban akan dinilai atas tindakan mereka, bukan janji.
Pernyataan Departemen Luar Negeri menyampaikan, delegasi AS di akhir pekan berunding di Doha, Qatar, fokus pada masalah keamanan dan terorisme dan jalur aman warga AS, warga negara asing lainnya dan warga Afghanistan, termasuk membahas masalah HAM dan partisipasi perempuan dan anak perempuan dalam segala aspek dalam masyarakat Afghanistan.
Pernyataan tersebut mengungkapkan, kedua belah pihak juga membahas bantuan kemanusiaan AS kepada rakyat Afghanistan.
“Diskusi berlangsung jujur dan profesional di mana delegasi AS menegaskan kembali bahwa Taliban akan dinilai berdasarkan tindakannya, bukan hanya kata-kata,” jelas pernyataan tersebut, dilansir The Straits Times, Senin (11/10).
Pada Sabtu, Menteri Luar Negeri Afghanistan sementara menyampaikan kepada Al Jazeera, perwakilan Taliban dalam perundingan tersebut meminta AS untuk mencabut pembekuan sumber daya bank sentral Afghanistan.
Pejabat pemerintahan Joe Biden menyampaikan kepada Reuters pada Jumat lalu, delegasi AS bakal menekan Taliban untuk membebaskan warga AS yang diculik, Mark Frerichs. Prioritas lainnya adalah meminta janji Taliban untuk tidak membiarkan Afghanistan menjadi tempat berkembangnya Al-Qaidah dan kelompok ekstremis lainnya.
Para pejabat mengatakan pertemuan tersebut merupakan kelanjutan dari keterlibatan pragmatis dengan Taliban dan bukan terkait memberikan pengakuan atau legitimasi terhadap kekuasaan kelompok tersebut.
Pejabat AS mengatakan mereka berhubungan dengan puluhan orang Amerika dan penduduk permanen legal yang berharap segera meninggalkan Afghanistan dan ada ribuan warga Afghanistan sekutu AS yang berpotensi dipersekusi Taliban masih berada di negara tersebut.
Washington dan negara-negara Barat lainnya menghadapi pilihan sulit karena krisis kemanusiaan yang semakin parah di Afghanistan. Mereka berusaha bagaimana terlibat dengan Taliban tanpa mengakui pemerintahan mereka, dan memastikan bantuan kemanusiaan tetap mengalir ke negara tersebut.
(mdk/pan)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya