AS bakal setop bantu pemberontak, Rusia bisa menang di Suriah
Merdeka.com - Amerika Serikat nampaknya mulai kelelahan buat menggulingkan Presiden Suriah, Basyar al-Assad, dari tampuk kekuasaan. Menurut sejumlah sumber, Presiden AS, Donald Trump, menyatakan bakal menghentikan program bantuan senjata dan pelatihan buat pemberontak anti-Assad di Suriah, selama ini dibina oleh Agensi Intelijen Pusat (CIA).
Dilansir dari laman Middle East Eye, Kamis (20/7), menurut sumber di lingkungan pejabat tinggi AS, sebulan sebelum bertemu dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin, Trump menggelar rapat dengan Direktur CIA, Mike Pompeo, dan penasihat keamanan negara, H.R. McMaster. Saat itu, Trump berjanji menghentikan seluruh program bantuan menyokong pemberontak anti-Assad yang sudah berjibaku selama enam tahun. Itu sebelum kedua negara sepakat melakukan gencatan senjata di Suriah. Konon hal itu lantaran pemberontak dianggap tetap tidak bisa mengungguli kekuatan pasukan Suriah dibantu Rusia dan Iran.
Menurut sumber, jika benar terjadi maka Rusia dan Putin menang dalam konflik Suriah. Keputusan itu justru disayangkan banyak pihak. Peneliti Institut Timur Tengah, Charlie Lister, mengatakan AS telah masuk perangkap Rusia.
"Perlawanan kita terlalu lemah dan menjadi rentan," kata Charlie.
Mantan Direktur Program Keamanan Timur Tengah pada Keamanan Amerika Baru, Ilan Goldenberg, menyatakan AS tidak bisa meninggalkan begitu saja para pemberontak Suriah.
"Ini adalah pasukan yang tidak bisa kita tinggalkan sepenuhnya. Jika pemerintah tidak lagi membantu pemberontak, maka itu kesalahan besar," kata Goldenberg.
Dilansir dari Al Jazeera, Juru Bicara Gedung Putih, Sarah Sanders, menolak berkomentar soal kabar itu. Termasuk juga CIA.
CIA mulai mengirim senjata dan melatih pemberontak Suriah pada 2013, saat kepemimpinan Presiden Barrack Obama. Sayangnya, kegagalan program itu lantaran sejumlah pemberontak malah bergabung dengan kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Hal itu sudah disadari di era Obama dan mereka sudah bersiap menghentikan bantuan. Apalagi pada akhir tahun lalu pemberontak kehilangan wilayah di Kota Aleppo, karena pasukan pemerintah Suriah dibantu Rusia menggempur mereka.
Sebelum menjabat pada Januari lalu, Trump sudah diberi pilihan apakah bakal meneruskan membantu pemberontak Suriah atau melawan ISIS. Namun, menurut sumber, saat itu kabarnya bantuan senjata dan pelatihan akan diberikan oleh militer AS. Yakni dengan serangan udara dan lainnya.
Menurut pakar sejarah Universitas Michigan, Prof. Juan Cole, jumlah bantuan AS buat pemberontak suriah masih tetap dari zaman Obama hingga Trump. Alhasil, jumlah pemberontak tidak bertambah besar dan sebagian malah kalah telak. Dia kini menduga Trump lebih senang mendukung pihak Kurdi buat memimpin Pasukan Demokratik Suriah, dan melawan ISIS.
(mdk/ary)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya