Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Apa jadinya kalau akun Twitter Presiden Trump dibajak?

Apa jadinya kalau akun Twitter Presiden Trump dibajak? Akun Twitter Trump. ©2017 Twitter.com

Merdeka.com - Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkenal sebagai sosok yang cukup aktif di akun media sosial Twitter. Trump seringkali mengunggah kicauan setiap kali dia menemukan sesuatu yang mengganjal dalam hatinya, terutama jika itu berkaitan dengan jabatannya.

Lalu, apa jadinya jika akun Twitter Trump dibajak oleh peretas?

Beberapa pengamat menyatakan ada kemungkinan akun Twitter sekelas orang nomor satu di AS itu dibajak. Dan jika itu sampai terjadi, maka akan terjadi pencatutan nama yang kemudian menyebabkan semacam kekacauan di dunia.

"Ada beberapa kalimat langsung dari presiden yang bisa memicu alasan bagi para peretas untuk membajak akunnya. Memang tidak pernah terjadi sebelumnya, dan sekarang kita hanya bisa berharap kepadanya," kata CEO ZeroFOX, sebuah perusahaan keamanan media sosial, Evan Blair, seperti dilansir dari laman NBC News, Rabu (22/2).

Menurut beberapa ahli, kicauan yang dibuat Trump juga bisa menggerakkan harga saham dunia. Jadi para peretas berharap dengan membajak akun Twitter Trump maka mereka bisa mengacaukan saham para pesaing dan menggunakan kesempatan itu untuk bisa menghasilkan uang.

"Seluruh orang tahu akun Twitternya. Jika seseorang mendapatkan akses ke dalam sistem keamanannya, maka akan timbul kekacauan, terutama bagi mereka yang memiliki motif jahat dan ingin menargetkan sesuatu hal. Anda bisa membayangkan bagaimana seseorang melakukannya semata-mata hanya demi mencari keuntungan," kata profesor di Universitas Maryland College jurusan Studi Informasi, Jen Golbeck.

Selain itu, ada potensi lain yang bisa timbul apabila akun Twitter Trump dibajak. Peretas bisa membuat pernyataan tidak benar yang berpotensi membuat marah dunia dan merusak hubungan AS dengan negara lain.

"Anda juga bisa membayangkan seseorang yang ingin menimbulkan kekacauan di dunia dengan menggunakan akun Twitter Trump dan menargetkan pemimpin yang tidak stabil untuk bereaksi," tutur Golbeck.

Twitter memang memiliki langkah-langkah keamanan di cukup ketat, termasuk otentifikasi dua faktor, yang membutuhkan kode yang akan dikirim ke sumber kedua, seperti smartphone, sebelum masuk ke situs. Namun, tidak jelas apakah Trump menggunakan pilihan tersebut untuk keamanan tambahan.

Jika tidak, Trump harus memiliki pilihan password dengan kombinasi yang rumit dan berharap tidak ada satu peretas pun yang bisa menebak password tersebut. Namun, kasus peretasan tetap tidak bisa dihindari meski upaya-upaya keamanan seperti ini.

"Ada sangat sedikit yang dapat Anda lakukan untuk melindungi akun Twitter Anda. Jadi ini adalah resiko besar," ungkap Golbeck.

(mdk/tyo)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP