Angka Pernikahan dan Kelahiran di China Turun karena Covid-19
Merdeka.com - Pandemi Covid-19 jadi penyebab turunnya angka pernikahan dan kelahiran di China.
Dilansir laman Aljazeera, Rabu (24/8), Komisi Kesehatan Nasional China melaporkan “virus corona memiliki dampak yang jelas pada pernikahan dan kelahiran.”
Selain virus, meningkatnya biaya pendidikan dan biaya membesarkan anak turut menjadi faktor turunnya angka pernikahan.
Komisi Kesehatan Nasional China turut mengungkapkan banyak perempuan yang menunda untuk menikah dan memiliki anak. Anak muda China lebih memilih untuk pindah ke kota dan menghabiskan waktunya untuk pendidikan atau bekerja. Kebijakan pemerintah pun turut ambil bagian dalam menurunkan angka pernikahan.
Semenjak kebijakan “nol-COVID” dikeluarkan, banyak warga China sulit untuk bersosialisasi. Kebijakan ini awalnya diambil untuk kontrol masyarakat China sehingga Covid-19 tidak lagi tersebar. Namun, kebijakan ini akhirnya menghalangi kesempatan warga China untuk bertemu, menikah, dan memiliki anak. Berbagai masalah dapat terjadi jika angka pernikahan terus menurun.
Sebelumnya, dari tahun 1980 – 2015 pemerintah China menerapkan kebijakan “satu anak” bagi setiap keluarga. Kebijakan ini akhirnya menjadi bumerang bagi pemerintahan China.
Tahun ini, China diperkirakan akan mengalami penurunan angka kelahiran di bawah 10 juta dibandingkan angka kelahiran tahun lalu 10,6 juta.
Untuk menangani masalah ini, pemerintah China telah mengambil langkah seperti keringanan pajak, cuti hamil lebih lama, peningkatan asuransi kesehatan, subsidi perumahan, dan uang bantuan untuk anak ketiga.
Reporter Magang: Theofilus Jose Setiawan
(mdk/pan)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya