Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Amnesty International: Senjata ISIS berasal dari AS

Amnesty International: Senjata ISIS berasal dari AS Militan ISIS berpawai di Kota Mosul, Irak. ©AFP PHOTO

Merdeka.com - Lembaga Pemantau Hak Asasi dari Inggris, Amnesty International, melansir laporan tentang pasokan senjata yang diperoleh militan Negara Islam Irak dan Syam (ISIS). Para pasukan khilafah disebut secara tidak langsung memperoleh pasokan senapan, amunisi, bazoka, dan banyak jenis senjata lainnya dari Amerika Serikat.

Militer Amerika Serikat, menurut Amnesty, teledor menjaga peredaran senjata yang mereka sebar di kawasan Irak dan sekitarnya sejak pendudukan 2003 hingga kemudian pasukan mereka ditarik mundur 2011.

"Lemahnya pengawasan penjualan senjata menjadi bahan bakar kekejaman ISIS selama ini," kata Peneliti Amnesty International, Patrick Wilcken, seperti dilansir kantor berita AFP, Selasa (8/12).

ISIS, setelah digempur Koalisi Barat lebih dari setahun, sekarang memiliki 50 ribu pasukan yang setiap orangnya memegang senjata api. Diperkirakan 650 ribu ton amunisi dimiliki militan khilafah.

Senapan serbu Bushmaster E2S buatan Amerika Serikat merupakan senjata favorit prajurit ISIS, setelah AK-47. Selain senapan itu, pasukan ISIS juga dilengkapi senapan CQ asal China, G36 dari Jerman, serta FAL buatan Belgia.

Kemungkinan besar para pasukan ISIS memperolehnya dari gudang senjata tentara Irak yang berhasil dijarah di Kota Tikrit, Fallujah, hingga Ramadi. Sisanya membeli di pasar gelap. Sejak 1980-an sampai sekarang, Amnesty International memperkirakan 12 persen penjualan senjata api dunia terjadi di Irak dan sekitarnya.

"Satu dekade pendudukan Amerika Serikat menyumbang besar meningkatnya pasokan senjata api di Irak," kata Wilcken.

Kesimpulan Amnesty International tak jauh berbeda dengan kajian Badan Riset Pelucutan Senjata (CAR). Disimpulkan, AS yang getol mengecam ISIS telah melakukan blunder. AS sejak pertengahan 2014 banyak memasok senjata buat pasukan Sunni pemberontak Suriah atau milisi Kurdi di Irak. Senjata-senjata itu kemudian berhasil direbut atau dijual ke ISIS.

CAR memetakan 8,5 persen total amunisi dan senjata yang dipakai ISIS bisa beredar di Timur Tengah dipicu ulah AS sendiri. Hampir 19 persen dari total amunisi ISIS, adalah produk Negeri Adi Daya itu.

(mdk/ard)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP