Al-Zawahiri belum jadi figur sentral Al Qaidah
Merdeka.com - Setahun lalu, di hari ini atau Selasa waktu Amerika Serikat, pemimpin tertinggi kelompok radikal Al Qaidah, Usamah Bin Ladin, terbunuh. Meski dua belas bulan lewat, Ayman al-Zawahiri yang dipilih menggantikan musuh nomor satu Amerika itu belum bisa menjadi figur sentral.
Mantan anggota CIA Marc Gerecth menilai kepemimpinan al-Zawahiri tidak terlalu bertaji karena ketiadaan pembagian tugas. "Dahulu, Bin Ladin mengurus manajemen, sementara al-Zawahiri menggalang dana, kini tugas itu harus diemban sendirian olehnya," ujar Gerecth, seperti dilansir Foxnews, Selasa (1/5).
Lahir dari keluarga kelas atas di Ibu Kota Kairo, Mesir, al-Zawahiri sebetulnya lulus sebagai dokter spesialis bedah. Namun, setelah keluar dari Ikhwanul Muslimin, dia berkenalan dengan Bin Ladin dan membentuk Gerakan Jihad Mesir (EIJ) awal 1979.
Sebagian besar hidupnya dihabiskan menggalang dana buat melakukan aksi teror ke Amerika dan negara-negara Eropa. Sepak terjang al-Zawahiri yang paling dikenal adalah bom bunuh diri Kedutaan Mesir di Pakistan pada 1995. Konon, dia pula otak pembunuhan Benazir Bhutto lima tahun lalu.
Karena lebih sering bolak-balik Afghanistan-Pakistan, hal ini jadi bumerang buat kepemimpinan al-Zawahiri. Dia tidak serajin Bin Ladin yang bersedia melintasi benua untuk menjaring sebanyak mungkin kader baru Al Qaidah.
Gerakan inti kelompok itu kini dianggap terlalu terpusat di Pakistan. Akibatnya, kini bermunculan kelompok teror lokal beraroma Al Qaidah. Disebut demikian karena kelompok seperti Boko Haram di Nigeria atau al-Shahab di Somalia tidak berupaya menyerang obyek vital Barat. Mereka hanya menyerang obyek-obyek yang sesuai tujuan di wilayah operasi masing-masing.
Bin Ladin tewas setelah diterjang peluru pasukan elit marinir Amerika SEAL, dalam operasi rahasia dini hari. Mereka menyergap pria 54 tahun itu di kediaman rahasianya di Kota Abbotabad, Pakistan. (mdk/tts)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya