Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

"Aku Melihat Tentara Rusia Menembak Mati Ayahku di Bucha"

Yuriy dan ayahnya, Ruslan, sebelum perang.. ©Foto keluarga atau dokumentasi pribadi/BBC

Merdeka.com - Sekitar pukul 11.00 pada 17 Maret, Yuriy dan ayahnya, Ruslan, sedang bersepeda menuju gedung pemerintahan Bucha, Ukraina, di mana bantuan dibagikan. Listrik, gas, dan air diputus, dan ketersediaan barang kebutuhan pokok di kota itu langka, salah satu kota yang diduduki pasukan Rusia saat mereka mendekati ibu kota Kiev.

Yuriy dan ayahnya berharap bisa mengambil bantuan obat-obatan dan makanan. Yuriy mengatakan seorang tentara Rusia menghentikan mereka di Jalan Tarasisvska. Mereka langsung mengangkat tangan mereka.

Saat diwawancarai BBC melalui telepon didampingi ibunya, Alla, bocah 14 tahun itu menceritakan apa yang terjadi selanjutnya.

"Kami mengatakan kepada mereka bahwa kami tidak membawa senjata apapun dan kami tidak berbahaya," ujarnya, dikutip dari laman BBC, Jumat (8/4).

"Lalu ayah saya menoleh ke arahku, dan itulah saat dia ditembak. Dia ditembak dua kali di dada, tepat di mana letak jantung. Lalu dia tersungkur," kenangnya.

Saat itu, lanjut Yuriy, tentara Rusia itu menembak tangan kirinya dan dia juga tersungkur. Saat dia tergeletak di tanah, dia ditembak lagi di lengan.

"Saya berbaring tengkurap, saya tidak bisa melihat apapun yang sedang terjadi di sekelilingku," ujarnya.

Tentara itu lalu menembak lagi, ke arah kepalanya.

"(Tapi) pelurunya mengenai hoodie-ku (tudung jaket)," lanjutnya.

Yuriy mengatakan, tentara itu menembak lagi dan mengenai kepala ayahnya. Tapi Ruslan telah meninggal.

"Saya dilanda kepanikan, terbaring di sana dengan lengan terluka di bawah saya. Saya melihat tangan saya berdarah," jelasnya.

Setelah itu, ketika tentara itu pergi ke belakang tank, Yuriy bangun dan lari.

BBC tidak bisa memverifikasi sepihak penjelasan Yuriy ini, tapi keterangannya muncul ketika muncul bukti-bukti kekejaman yang dilakukan pasukan Rusia di Bucha.

Di Bucha, mayat-mayat pria ditemukan tergeletak di jalan, banyak dengan luka parah. Beberapa ditembak di pelipis, seperti dieksekusi. Yang lain tangan atau kakinya terikat ke belakang. Beberapa orang dengan jelas ditabrak tank.

Banyak dari mayat itu terlihat di sepanjang Jalan Yablonska, hanya 2 kilometer dari jalan di mana Ruslan dibunuh.

Kami tidak berbahaya

berbahaya rev1Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.com

Alla mengatakan kepada BBC, dia pergi melihat suaminya setelah Yuriy kembali ke rumah dan menceritakan apa yang terjadi. Dia pikir Yuriy bisa saja salah, dan Ruslan hanya terluka, dan butuh bantuan medis.

"Anakku memohon padaku jangan pergi," kata Alla.

"Dia bilang mereka akan membunuhku juga."

Ketika dia jalan, tetangga menghentikannya.

"Mereka bilang jangan pergi lebih jauh, katanya Rusia membunuh setiap orang di wilayah yang mereka kuasai."

Besok paginya, Alla meminta bantuan ibunya. Memakai kerudung putih, mereka pergi ke TKP penembakan. Ibunya berbicara kepada tentara Rusia dan mereka berhasil melewatinya. Mereka akhirnya bisa mengambil jasad Ruslan dan membawanya pulang.

Sebuah foto dari tubuh yang tertutup sebagian, diambil oleh Alla dan dibagikan kepada BBC, tampaknya mengkonfirmasi kesaksian Yuriy. Ini menunjukkan luka tembak di sisi kiri dada, dekat jantung.

Ruslan (49) adalah seorang pengacara. Alla mengatakan suaminya aktif dalam masyarakat.

"Dia tidak bisa hanya duduk di tempat persembunyian dan menunggu. Jadi dia menjadi sukarelawan dan membantu orang-orang," ujarnya.

Mereka mengubur Ruslan di taman rumah keluarga.

Yuriy mengatakan tentara yang membunuh ayahnya jelas orang Rusia. Seragamnya hijau gelap, khas tentara Rusia.

"Saya melihat di jaket antipelurunya tertulis 'Rusia' dalam bahasa Rusia," katanya.

"Kami tidak berbahaya bagi militer, kami adalah warga sipil, mengenakan syal putih untuk menunjukkan itu," kata Yuriy.

"Ini sangat bodoh."

(mdk/pan)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP