Ahmadinejad, terpilih lagi karena kehendak Tuhan
Merdeka.com - Hari ini, tiga tahun lalu, pemilihan presiden Iran ke sepuluh sepanjang sejarah negara itu digelar. Petahana Mahmud Ahmadinejad bersaing dengan penantang kuat mantan perdana menteri Mir-Hossein Mousavi.
Hasilnya, Ahmadinejad dinyatakan menang mutlak, meraup 62 persen dukungan. Mousavi membuntuti di peringkat kedua dengan 34 persen suara. Warga yang menggunakan hak pilihnya mencapai 85 persen.
Pemilihan satu putaran ini bukannya disambut gempita rakyat. Jutaan warga malah berunjuk rasa, menuding pemerintah telah melakukan kecurangan.
Sejak Revolusi Islam pada 1979, baru kali Iran mengalami perpecahan antar golongan, yaitu kalangan Islam dengan kelompok sekuler-reformis.
Mahasiswa dan tokoh-tokoh penting negeri Mullah itu turun ke jalanan Ibu Kota Teheran, sehari sesudah pemilihan umum digelar. Nama-nama kondang yang ikut berunjuk rasa di antaranya sutradara Jafar Panahi, pemuka agama Ayatullah Yousef Saanei, hingga cendekiawan Mustafa Tajzadeh. Mereka semua percaya Mousavi sudah dicurangi, seperti dilansir BBC (13/06/2009).
Surat kabar the Guardian berhasil mendapatkan kesaksian dari mantan anggota Garda Nasional, lembaga keamanan berpengaruh di negara itu. Sumber yang tidak disebut namanya itu menunjukkan data dari Kementerian Dalam Negeri Iran yang menunjukkan Mousavi sejatinya mendapat 20 juta suara lebih. Lebih mengejutkan lagi, Ahmadinejad berada paling buncit, hanya mendapatkan 5,5 juta dukungan.
Pendukung utama Ahmadinejad, pemimpin tertinggi Iran Ayatullah Ali Khameini menilai dia terpilih kembali karena kehendak Tuhan. "Para musuh pasti ingin merusak kemenangan yang sudah dikehendaki Tuhan ini," ujar Khameini saat itu.
Mousavi menyatakan dirinya percaya pemilihan itu berlangsung tidak wajar. "Kecurangan semacam ini hanya akan melahirkan tirani," kata kandidat reformis itu.
Ahmadinejad tidak banyak mengomentari hasil pemilihan umum. Namun, ribuan oposisi langsung dibungkam tak lama setelah dia resmi menjabat buat kedua kalinya.
Tokoh-tokoh pendukung Mousavi dari kalangan mahasiswa dan budayawan langsung dibui. Lamanya bervariasi, dari setahun hingga 20 tahun. Mereka didakwa melakukan upaya makar karena berunjuk rasa dan memancing kerusuhan.
Pemilihan presiden tiga tahun lalu bagi pengamat menunjukkan posisi Ahmadinejad yang sebenarnya. Pria 55 tahun ini rupanya tidak lagi disukai kalangan kelas menengah dan masyarakat terdidik. Dia dianggap terlalu keras bersikap pada Israel dan membahayakan rakyat Iran.
Hingga kini, pemerintahan Ahmadinejad tak pernah sepi dari masalah. Sejak tahun lalu, Amerika Serikat dan Israel kompak menuding Iran sedang mengembangkan senjata nuklir. Sang presiden juga rutin mendapat kecaman dari dalam negeri karena melakukan sensor besar-besaran di Internet dan menangkapi pegiat hak asasi.
Ada pula insiden seorang ibu menaiki mobil Ahmadinejad di Kota Bandar-Abbas dua bulan lalu. Dia mengeluh harga kebutuhan pokok naik dan keluarganya kelaparan.
Sang pemimpin pilihan Tuhan ini tampaknya masih harus menempuh jalan berliku dalam menggenapi jabatannya sebagai Presiden Republik Islam Iran yang berakhir tahun depan. (mdk/fas)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya