Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Ahli forensik justru sangkal dugaan Otto Warmbier disiksa di Korut

Ahli forensik justru sangkal dugaan Otto Warmbier disiksa di Korut Otto Warmbier. ©2016 REUTERS/Kyodo

Merdeka.com - Kesaksian Ayah dan ibu mendiang Otto Warmbier, mahasiswa Amerika Serikat dihukum kerja paksa pemerintah Korea Utara selama 15 tahun tetapi dipulangkan dalam keadaan koma, soal dugaan penyiksaan dibantah. Menurut petugas forensik mengautopsi jasad pemuda itu, tidak terlihat satupun tanda penyiksaan.

Salah satu petugas forensik di Ohio, Lakshmi Sammarco, mengatakan mendiang Otto meninggal karena mengalami kerusakan otak akibat kekurangan oksigen. Namun, dia mengaku tidak tahu persis penyebab Otto bisa mengalami hal itu, seperti dilansir dari laman AFP, Kamis (28/9).

Sammarco juga menyatakan kalau dia tidak menemukan tanda-tanda bekas penyiksaan di tubuh Otto. Dia menegaskan tidak ada tulang yang patah ataupun gigi Otto dicabut paksa, seperti pengakuan kedua orang tuanya.

"Kami tidak tahu apa yang terjadi kepada Otto. Kami tidak akan pernah tahu yang sebenarnya, kecuali ada orang yang tahu muncul, kemudian mengungkapkan semuanya," kata Sammarco.

Sammarco menambahkan, hanya terdapat luka kecil di jasad Otto. Pernyataannya juga berbanding terbalik dengan penuturan orang tua mendiang.

"Mereka sedang sedih. Saya tidak bisa menanggapi komentar mereka," ujar Sammarco.

Menurut pemberitaan di laman The Guardian, Rabu (27/9), ayah dan ibu mendiang Otto, Fred dan Cindy Warmbier, masih mengingat masa menjelang saat-saat terakhir anak mereka. Dalam acara di televisi Fox and Friends Morning Show, keduanya membeberkan bagaimana buruknya kondisi Otto setelah dipulangkan dari Korea Utara.

Fred mengaku ketika dibawa di dalam pesawat, mendiang Otto kerap melamun dan mendadak mengamuk, juga kadang melolong tanpa sebab. Dia juga pulang dalam keadaan tuli dan rambutnya habis dicukur. Pada kaki kanan Otto, kata Fred, juga terdapat luka besar dan mengalami demam tinggi. Fred juga yakin kalau gigi anaknya dicabut dengan tang.

Sang istri, Cindy, dan adik perempuan mendiang Otto tidak tega melihat kondisi itu. Mereka langsung berlari meninggalkan mereka ketika pesawat itu sampai di Cincinnati pada Juni lalu.

"Kami enggak siap. Tidak ada ibu, atau orang tua yang harus mengalami apa yang kami lalui," kata Cindy.

Soal pembelaan Korea Utara yang menyangkal menyiksa Otto, Fred menampiknya.

"Korea Utara bukan korban. Mereka itu teroris. Mereka menculik Otto, menyiksanya, dan memang berniat menyakitinya," kata Fred.

Pihak Korea Utara mengklaim menangkap Otto, yang saat itu merupakan mahasiswa Universitas Virginia, pada Januari 2016 karena mencuri poster propaganda saat datang ke negara itu. Dua bulan kemudian, Otto divonis kerja paksa selama 15 tahun. Namun, pemuda 22 tahun itu dipulangkan beberapa waktu lalu, dan meninggal sepekan setelah dirawat di Rumah Sakit Universitas Cincinnati. Dokter mengatakan Otto koma dan mengalami cedera saraf serius. (mdk/ary)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP