Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Agar tetap berkurban, warga Gaza pilih membeli kurban dengan cara mencicil

Agar tetap berkurban, warga Gaza pilih membeli kurban dengan cara mencicil Pasar hewan di Palestina. Ibraheem Abu Mustafa/ Reuters

Merdeka.com - Menjelang Idul Adha, pasar hewan di Jalur Gaza sepi pembeli akibat kemerosotan ekonomi akibat blokade yang diberlakukan Israel selama lebih dari satu dasawarsa.

"Sedikit orang membeli hewan kurban menjelang Idul Adha akibat kesulitan ekonomi dan tingginya angka kemiskinan serta pengangguran," kata pedagang ternak, Saed Al-Batniji.

"Bertahun-tahun blokade Israel telah menurunkan daya beli penduduk. Sejauh ini, saya menjual kurang dari sepertiga apa yang biasa saya jual dalam beberapa tahun belakangan ini," ujar pedagang bernama Al-Batniji kepada Xinhua.

Menurut data terkini dari Biro Statistik Pusat Palestina, angka pengangguran di Jalur Gaza mencapai 53,7 persen dibandingkan dengan 19,1 persen di Tepi Barat Sungai Jordan.

Blokade Israel telah mendorong dua juta warga Jalur Gaza makin jauh ke dalam garis kemiskinan sementara ahli ekonomi di Jalur Gaza menyatakan kemiskinan parah mencapai 53 persen pada 2017 dibandingkan dengan 37 persen pada 2011.

Tahun ini, harga rata-rata kambing di Jalur Gaza mencapai USD 350, sementara harga bersama anak sapi dan unta mencapai USD 450. Harga itu melampaui daya beli sebagian besar warga Palestina di Jalur Gaza, sehingga pasar mengalami resesi yang tak pernah terjadi sebelumnya.

Pedagang ternak mengatakan banyak warga yang membeli hewan kurban dengan cara mencicil akibat keterbatasan gaji pegawai Pemerintah Palestina yang menerima 50 persen gaji mereka atau pegawai HAMAS, yang dibayar 40 persen gaji mereka.

Dalam beberapa tahun belakangan, warga Jalur Gaza telah mensahkan sistem pembagian untuk membeli hewan kurban akibat memburuknya kondisi ekonomi kebanyakan penduduk.

Melalui sistem itu, konsumen bisa membeli secara bersama satu sapi atau anak sapi dan juga dapat membayar cicilan setelah kesepakatan dengan pedagang ternak.

Rafat Ashour, seorang insinyur dari Jalur Gaza, bergabung dengan enam orang lagi untuk membeli hewan kurban tahun ini.

Ashour mengatakan kepada Xinhua bahwa ia ingin berkurban tiap tahun sebab itu adalah ibadah penting dalam Islam buat semua orang Muslim yang mampu secara finansial.

Berdasarkan ajaran Islam, daging hewan kurban dibagi tiga bagian, yakni satu bagian dibagikan kepada orang yang tidak mampu, satu bagian lagi buat kerabat dan sisanya buat keluarga orang yang berkurban untuk dimasak selama empat hari saat berkurban, Idul Adha dan tiga hari Tasyrik.

Produksi lokal hewan ternak di Jalur Gaza selama beberapa tahun belakangan memenuhi 40 persen dari kebutuhan pasar domestik. Namun, kebanyakan ternak di Jalur Gaza sekarang diimport dari Eropa dan memasuki wilayah yang diblokade itu melalui Israel.

Kepala Departemen Ternak di Kementerian Pertanian Jalur Gaza, Taher Abu Ahmed, mengatakan kebutuhan Jalur Gaza untuk hewan kurban setiap tahun diperkirakan 8.000 sapi dan sebanyak 20.000 kambing. Ia menambahkan bahwa warga Jalur Gaza mengonsumsi 14.000 sapi dan 30.000 kambing selama Hari Raya Kurban tahun lalu.

Abu Ahmed menekankan bahwa permintaan tahun ini rendah akibat tingginya angka kemiskinan dan melonjaknya harga ternak global selain peningkatan biaya pemeliharaan dan pengangkutan ternak, dikutip dari Antara.

(mdk/frh)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP